<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335</id><updated>2012-02-17T10:11:25.987+07:00</updated><title type='text'>ORET Creative Branding Agency</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-2188481058814006120</id><published>2010-09-06T17:26:00.004+07:00</published><updated>2010-09-08T03:11:25.643+07:00</updated><title type='text'>Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H</title><content type='html'>&lt;object width="400" height="224"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.facebook.com/v/425018206324"&gt;&lt;embed src="http://www.facebook.com/v/425018206324" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="400" height="224"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:'trebuchet ms';"&gt;Selalu terselip sebuah noda dalam kehati-hatian kami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Semoga kata maaf ini, dapat menjernihkan kekhilafan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;b&gt;Minal 'Aidin Wal Faizin&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-2188481058814006120?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/2188481058814006120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/09/selamat-hari-raya-idul-fitri-1431h.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/2188481058814006120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/2188481058814006120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/09/selamat-hari-raya-idul-fitri-1431h.html' title='Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-1656221862152213480</id><published>2010-06-01T17:24:00.004+07:00</published><updated>2010-06-03T20:22:22.318+07:00</updated><title type='text'>13 trend kegagalan merk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="art-PostContent"&gt;            &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;(branding)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;1. Kegagalan Elemen Merek&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Masalah buruknya penanganan elemen-elemen merek seperti nama, logo,  slogan,  kemasan, karakter dan symbol, juga menjadi penyebab sebuah  merek harus hengkang dari pasaran. Seperti kita lihat, banyak marketer  yang menganti logo dan slogan mereknya  dan mengabaikan konsistensi  pewarnaan logo atau corporate  color, yang berakibat buruk pada  perkembangan merek itu sendiri. Konsistensi akan menimbulkan  loyalitas.Sebaliknya ketidakkonsistenan elemen merek akan menjegal  loyalitas terhadap merek tersebut.&lt;span id="more-85"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kegagalan elemen merek lebih terkait kepada kegagalan pemasar dalam  meramu bauran pemasaran menjadi satu kesatuan dan terintegrasi sehingga  menghasilkan merek yang berkualitas. Banyak pemasar ternyata tidak bisa  membuat elemen elemen marketing miix menjadi satu kesatuan dan  terintegrasi sehingga akhirnya merek yang dihasilkan menjadi tidak  sempurna. Bahkan banyak yg hanya me too dan tidak sedikit yang  menghasilkan marketing mix yg cenderung destruktif sehingga membuat  ekuitas merek terdilusi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; 2. Kegagalan STP&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini adalah hal yg paling mendasar dan sering terjadi. Bahkan banyak  pemasar tidak mengerti tentang STP dan sering langsung menyusun program  marketing mix tanpa tahu mengenai apa strategi segmentasi mereka, kemana  target mereka dan janji apa yang mereka tawarkan ke pasar&gt; Akibatnya  banyak pemasar yg karena tidak mengerti siapa target mereka kemudian  ngawur menetapkan elemen marketing mix mereka&lt;, dan tidak sedikit yg  salah melakukan error positioning seperti janji terlalu berlebihan,janji  kerendahan,jmembuat janji yang membingungkan konsumen  serta janji yang  diragukan oleh konsumen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; 3. Kegagalan ide&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada 2 kesalahan dalam mensreening ide yaitu go error dan drop error.  Go error artinya kita meneruskan ide yang salah , dan drop error berarti  kita membuang ide yang sebenarnya bagus.Banyak pemasar melakukan  keslahan ini, tetapi kegagalan ide juga bisa disebabkan oleh top  management atau owner yang terlalu memaksa ide ide favorit mereka,  padahal dari hasil penelitian dan temuan didapatkan hasil  negatif.Setelah nantinya kalau gagal di pasar kemudian mereka berusaha  menyalhkan brand manager atau product manager untuk mencari kambing  hitam. Jadi para pemasar harus berani menolak walaupun di paksa oleh top  managemen mereka, karena kalau gagal berarti menorehkan tinta hitam di  karir mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; 4. Kegagalan menganalisis pasar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kegagalan menganalisis pasar merupakan hal yang sering terjadi dan  biasanya banyak yang menganggap hal ini tidak penting. Padahal para  pemasar tidak dapat menentukan STP yg bener kalau tidak melakukan  analisis pasar secara benar. STP harus dihasilkan dari analisis pasar  yang akurat. Hal hal yang harus dianalisis adalah analisis ke  konsumen,analisis ke pesaing, analisis ke produk, analasis pasar dan  lingkungan.Michael Porter bahkan menyebutkan ada 5 kekuatan yang harus  dianalisis yaitu : kekuatan tawar menawar buyer, kekuatan supplier,  pesaing yang ada, pendatang baru dan kekuatan produk pengganti. Kelima  kekuatan inilah yang akan menentukan keberhasilanm sebuah merek.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; 5. Kegagalan brand extension&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Brand extension adalah suatu cara dimana kita memakai merek yang sama  untuk diperluas ke produk kategori yang lain. Biasanya pemasar  cenderung ,mengembangbiakkan mereknya tanpa suatu struktur yang jelas.  Mereka sering kali lupa bahwa jika ingin melakukan perluasan merek maka  merek yang diperluas harus merek yang ekuitas mereknya sudah kuat. Merek  yang ingin diperluas tidak boleh merek tsb sudah ”over extension ”,  mereka juga sering kali lupa bahwa image awal dari merek mereka belum  tetntu bisa diperluas ke product kategori yang lain. Sehingga kita  mestinya harus menciptakan hasil dari brand extension kita menjadi ”The  Good or More Good” tetapi kebanyakn hasilnya adalah ”The Bad or The  Ugly” bahkan ada yang menjadi ”More ugly”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;6. Kegagalan PR&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sering kali orang lupa tentang artinya Marketing PR, padahal MPR  merupakan program program yang dibangun untuk membangun dan memelihara  serta menaikkan image dari merek atau perusahaan. Banyak pemasar yang  hanya masuk pada tataran membangun image atau mencuptakan image , tetapi  banyak yang lupa tentang bagaimana memelihara serta menaikkan  image.Apalagi kalau kita berbicara mengenai image repositioning, banyak  pemasar yang tidak mengerti, sehingga jika produknya ada masalah, maka  penanganannya mebnjadi amburadul.MPR yg buruk akan mengakibatkan  jatuhnya image merek yang akhirnya akan menjatuhkan merek tersebut&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;7. Kegagalan komunikasi merek&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kegagalan komunikasi merek lebih disebabkan ketidaktahuan kita  mengenai apa esensi dari komunikais merek. Kalau kita berbicara  ,mengenai komunikasi merek berarti kita tidak hanya bicara mengenai  periklanan, tetapi kita berbicara mengenai Integrated Marketing  Communication, berbicara bagaimana seorang pemasar harus mengharmonisasi  kegiatan kegiatan bauran komunikasi seperti : iklan,sales  promotion,personal selling, public relation dan online marketing,  bagaimana mengintegrasikan bauran komunikasi tersebut sehingga tercipta  communication outcomes yang akan terlihat dari communication response  index.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;8. Kegagalan Mengubah merek&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Merubah merek harus dilakukan dengan hati-hati , banyak kasus  perubahan merek tidak membaw ahasil yang diharapkan. Jika dilakukan  dengan tergesa gesa pasti fatal akibatnya. Jika mau melakukan perubahan  merek, maka pastikan nama merek anda memang sudah bermasalah,asosiasi  mereknya banyak yang negatif, atau karena harus mengikuti kebijakan  strategi global.Salah satu syarat lainnya adalah pada saat merubah merek  jika pesaing terdekatnya sangat kuat atau hampir sama perolehan market  sharenya ,maka sebaiknya dihindari perubahan merek tersebut.Tetapi jika  pesaing terdekat memiliki market share yang tidak besar, maka perubahan  merek tidak akan terlalu beresiko. Lihat saja contoh perubahan merek  yang berhasil dari sofell dan hansaplast, yang berani melakukan  perubahan merek walaupun sebenarnya asosiasi merek awal yaitu sari puspa  dan tensoplast masih bagus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;9. Kegagalan Teknologi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak merek yang gagal juga karena produknya memiliki kompleksitas  yang tinggi. Salah satu faktor penghambat adopsi merek oleh konsumen  adalah faktor complexity. Konsumen merasa rumit dalam penggunaan produk  tersebut, apalagi kalau target marketnya tidak well educated, sehingga  konsumen merasa produk tersebut tidak user friendly.Makanya pemasar  harus memperhatikan faktor faktor yang menghambat tingkat adopsi  konsumen yaitu produk tsb harus memiliki relative advantage di banding  pesaing, compatibility,complexity,divisibility,dan innovation’s  communicability.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;10.  Kegagalan terhadap budaya pasar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak pemasar yang terlalu memaksakan konsep globalisasi murni  dimana semua program pemasaran dipaksakan masuk ke negara yang dituju.  Untuk pasar Indonesia, individualisasi masih berlaku, artinya jika mau  masuk ke indonesia maka program-prohgram pemasaran harus disesuaikan  dengan kondisi kebudayaan lokal. Bukan hany STP nya yang harus  dianalisis kembali, tetapi semua elemem marketing mix harus diosesuaikan  dgn kondisi lokal. Think globally, act locally adalah hal yang harus  dianut.Pemasar jangan terjebak dengan semua permainan dan konsep global  yang mungkin gagah untuk diucapkan, tetapi gagal dalam mencetak market  share dan profit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;11.  Kegagalan pelayanan merek&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;After sales service merupakan suatu keharusan apalagi bagi produk  produk yang menggunakan teknologi maju. Produk produk otomotif dan  elektronik yang mengabaikan after sales service biasanya kandas ditengah  jalan, demikian juga dengan perusahaan lainnya , service minded menjadi  keharusan, karena sebenranya semua perusahaan adalah service company.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;12.  kegagalan sebagai pemain tunggal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemasar yang bermain sendiri akan sulit membuat pasarnya menjadi  besar , disamping tentu saja biaya yang dikeluarkan juga akan besar.  Edukasi pasar membutuhkan dana yang besar , sehingga perlu mengajak  pemain lain untuk masuk untuk bersama sama mempercepat akselerasi  pertumbuhan pasar. Pemain tunggal harus berupaya memancing pemain lain  untuk masuk dengan menginformasikan incentif pemasaran ke pasar sehingga  menaikkan  attractiveness market, tentu saja ada resiko yang muncul  jika yang masuk itu adalah big player serta  fast follower tentu akan  membahayakan posisi kita dip asar. Hendaknya sebelum melembar incentif  pemasaran ke pasar maka pemasar hendaknya memperkuat posisi merek di  pasar sehingga pondasinya sudah kuat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;13.  kegagalan merek renta&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Merek renta adalah merek yang sudah tua serta loyo, tidak punya  semangat lagi । Merek ini selalu memandang dirinya telah banyak  pengalaman dan tidak mau berubah, tidak mau mengikuti perkembangan  pasar, menganggap dirinya lebih banyak pengalaman di banding dengan  merek lain. Merek ini harus disadarkan tentang pandangan dirinya yg  sallah tentang market, tentang persaingan, tentang segala-galanya,  sehingga jika pemilik merek nya telah sadar, maka langka revitalisasi  merek harus segera dilakukan.Jika tidak , maka merek tsb mengalami brand  myopia, dan dipastikan akan hancur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;dikutip dari&gt;&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" color: rgb(64, 64, 64); line-height: 24px;font-family:Georgia,Times,serif;"&gt;&lt;a rel="nofollow" target="_blank" href="http://darmadidurianto.net/2010/02/13-tren-kegagalan-merek/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; http://darmadidurianto.net/2010/02/13-tren-kegagalan-merek/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-1656221862152213480?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/1656221862152213480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/06/13-trend-kegagalan-merk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1656221862152213480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1656221862152213480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/06/13-trend-kegagalan-merk.html' title='13 trend kegagalan merk'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-1924722673116343775</id><published>2010-05-18T11:37:00.002+07:00</published><updated>2010-05-26T20:55:59.970+07:00</updated><title type='text'>Kreativitas Kampanye di Twitter</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Marketing)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Beberapa tulisan sebelumnya, suka dibahas kalau kampanye brand lokal di Twitter polanya selalu begitu-begitu saja. Dari membuat kuis tweet berhadiah dengan menempelkan hashtag di akhir tweet, hingga kontes banyak-banyakan RT (aduh yang ini, malas banget), apalagi kalau sampai mengganggu. Meski sebenarnya ada pula yang menarik seperti yang dilakukan @soyjoyID. Suatu prestasi tersendiri bagi @soyjoyID bisa membangun hype di Twitter selama hampir 3 bulan, dengan cara yang variatif dan tidak membosankan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemarin-kemarin sudah banyak dibahas kasus lokal. Ada beberapa kasus brand luar yang sukses memanfaatkan Twitter untuk membangun hype-nya. Umumnya, seperti yang dilakukan @soyjoyID, keberhasilan kampanye ini karena terintegrasi pula dengan aktivitas offline-nya. Atau kalau misalnya murni online, aktivitas kampanyenya tidak terpaku hanya di timeline Twitter. API terbuka yang dimiliki Twitter dikembangkan menjadi sesuatu yang baru dan unik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa contoh kasus luar berikut ini mudah-mudahan bisa memicu kreativitas untuk berkampanye di Twitter dengan lebih elegan.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mad Men Yourself&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini memang tidak berhubungan langsung dengan Twitter, namun buzz-nya sempat menyebar heboh di Twitter. Situs Mad Men Yourself ini merupakan promosi serial Mad Men yang menampilkan karakter-karakter dengan desain tahun 60-an. Aplikasi seperti ini sebenarnya sudah banyak sekali dibuat, namun kini di era Twitter dan Facebook, ada twist baru yang dimunculkan. Kita bisa membuat karakter ini untuk lalu kita jadikan avatar di Twitter dan Facebook. Saat peluncurannya dulu, pengguna Twitter di luar sana begitu kecanduannya, sehingga mereka mengganti avatarnya dengan hasil desain yang dikeluarkan dari aplikasi ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Beberapa minggu lalu seorang pengguna Twitter, @deon sukarela membuatkan banyak avatar dengan desain segaya, dan hebohnya menyebar dengan cepat. Tanpa terasa, virus avatar bergaya serupa menyebar. Saat itu banyak teman Twitter lainnya yang membuat hal serupa, dan ikut membantu @deon mendesainkan untuk teman-teman lainnya. Dalam seminggu lebih, buzz avatar ini masih terjaga, meski bisa jadi @deon sebenarnya tidak berekspektasi sejauh ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;I Spy Levi’s&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kampanye Levi’s ini berlangsung di Australia dan Selandia Baru. Levi’s mengutus orang-orang terpilihnya untuk mengenakan jins Levi’s dan menyebarnya di beragam penjuru kota. Petunjuk untuk mencari orang-orang ini bisa ditemukan melalui akun Twitter Levi’s. Para peserta diminta untuk mencari orang-orang ini dan menanyakan ke mereka apakah mereka menggunakan Levi’s. Kalau dugaan si peserta benar, maka orang tersebut akan mencopot langsung celana Levi’s yang dikenakannya dan memberikannya ke si peserta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Uniqlo UTweet&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Uniqlo, sebuah brand fesyen, selalu punya ide-ide kreatif unik dalam kampanyenya. Yang terakhir kali, Uniqlo membuat aplikasi UTweet. Di situs ini, kita diminta memasukkan ID Twitter kita, atau memasukkan kata tertentu. Situs ini lalu akan menampilkan video flash yang secara dinamis mengambil percakapan terakhir kita di Twitter (dengan efek visual yang menarik). Di pertengahan hingga akhir video, promo brand Uniqlo ditampilkan dalam gaya visual yang tetap inline.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Twitter Cup&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau yang ini dari SonyEricsson dalam semangat Piala Dunia. Situs ini menampilkan seberapa banyak suatu negara disebutkan dalam percakapan di Twitter. Semakin sering disebutkan, maka sudut-sudut stadion bola yang diwakili negara tersebut akan semakin penuh oleh supporter. Negara yang jarang disebutkan di Twitter akan sedikit pula mendapat dukungan supporter.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Masih banyak sih contoh lainnya&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://media-ide.bajingloncat.com/2010/05/12/kreativitas-kampanye-di-twitter/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-1924722673116343775?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/1924722673116343775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/kreativitas-kampanye-di-twitter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1924722673116343775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1924722673116343775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/kreativitas-kampanye-di-twitter.html' title='Kreativitas Kampanye di Twitter'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-6059509575741963356</id><published>2010-05-12T10:59:00.004+07:00</published><updated>2010-05-26T20:56:08.794+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Cara Menjaga Reputasi Brand di Social Media</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Marketing)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Membangun reputasi sebuah brand di awal startup lewat aktivitas di media social bisa berarti langkah cerdas. Brand aktivasi, bukan saja karna lebih efektif secara resources namun juga berarti mencicil masalah trust yang biasanya diabaikan dalam tradisional marketing. Internet Marketing bukan tanpa masalah!. Masalahnyanya yakni komunikasi horizontal alias multi channel saat ber-aktifitas social media marketing sering kali membawa korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan masalah besar kalau brandnya masih terhitung baru, tapi bagaimana jika brand itu sudah terlanjur mempunyai pengaruh dan influence yang kuat? jawabannya adalah &lt;strong&gt;Menjaga Reputasi Brand di Social Media&lt;/strong&gt;!&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Brand = Personal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali brand di perlakukan layaknya hubungan vertikal, tapi seleksi alam di social media memperlakukan brand layaknya personal. Ia mempunyai karakter, ia berinteraksi, cuap cuap santai nan remeh bahkan terkadang juga bisa melakukan kesalahan seperti kejadian motivator &lt;em&gt;Mario Teguh&lt;/em&gt; yang menghebohkan dunia twitter dengan komentarnya dan akhirnya menutup akun twitternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karna brand dianggap layaknya personal, maka jangan rancukan antara brand personal Anda dengan perusahaan atau mungkin partai Anda.&lt;br /&gt;Don’t Silent or even Argue&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Don’t Silent&lt;/strong&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berdiam sejenak sampai keadaan mereda bahkan mungkin sampai mereka lupa bisa saja dipraktekan di ranah offline. Berbeda dengan social media, aksi diam justru membuat branding anda semakin melemah bisa juga dikatakan bunuh diri!.Karena semua akan tercatat, minimal sampai Google tidak lagi beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Don’t Argue&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak ada salahnya meminta maaf lebih dulu jika memang anda melakukan kesalahan. Ketika pesan sudah terlanjur menyebar dan ternyata Anda yang benar atau jika masalah sudah diselesaikan tak ada ruginya meminta testimonial dari customer yang bersangkutan dengan kasus.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Have Conversation Then Appreciate Them&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita terkadang berharap dan memaksa konsumen dengan pandangan pribadi, namun kita tidak pernah memikirkan bagaimana konsumen membentuk pandangannya sendiri. Raih engagement dengan meningkatkan ratio conversation, setelah itu meskipun Anda pikir yang Anda katakan di twitter itu benar, Anda tetap harus menghargai pendapat orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Online Crisis Management&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun sulit, awasi channel social media yang Anda miliki begitupun dengan kanal kanal besar seperti facebook, twitter, kaskus ataupun social network lainnya. Untuk perusahaan, sebaiknya memiliki team khusus yang bertugas mengawasi, me-respond dengan cepat ataupun beraktivitas di media online. Terakhir dan terpenting, pahami etikanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Online Etiquette&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Etika masih menjadi masalah bagi brand besar sekalipun, seperti berita yang dirilis..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;contoh :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam akun twitternya kemarin sang motivator ini menuai protes sebagai akibat dari postingannya yang kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;” @MarioTeguhMTGW perempuan yang suka dugem dan merokok tidak layak untuk dinikahi “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era social media, masih banyak kalangan belum memahami etika dalam berkomunikasi di ranah maya. Meski orang tersebut seorang publik figure, pejabat, bergelar tinggi bahkan seorang motivator ulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya Mario Teguh memberikan sebuah kalimat ” Diskusi ” atau “ New Post “ (apabila ada artikel blog yang mendukungnya) di depan postingannnya tersebut.&lt;br /&gt;contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” @MarioTeguhMTGW [Diskusi] perempuan yang suka dugem dan merokok tidak layak untuk dinikahi “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” @MarioTeguhMTGW [New Post] perempuan yang suka dugem dan merokok tidak layak untuk dinikahi http://bit.ly/xxxxxxx”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Jangan lupa untuk terus belajar, pahami cara menyampaikan berita dan bagaimana pemirsa menerima pesan didalamnya. Trial and error pun tak masalah. It’s Social not science!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana sebaiknya, apakah menjaga reputasi di social media sebelum atau justru ketika sudah besar? demi sebuah kata PENGHEMATAN!.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://road-entrepreneur.com/how-to-menjaga-reputasi-di-social-media/&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-6059509575741963356?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/6059509575741963356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/bagaimana-cara-menjaga-reputasi-brand.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6059509575741963356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6059509575741963356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/bagaimana-cara-menjaga-reputasi-brand.html' title='Bagaimana Cara Menjaga Reputasi Brand di Social Media'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-6592395176088671764</id><published>2010-05-07T10:07:00.001+07:00</published><updated>2010-05-26T20:56:18.679+07:00</updated><title type='text'>Cara Menghindari Menghamburkan Uang di Merk (Brand) Anda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Marketing)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengefektifkan Merk Anda - KERJA KERAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Anda memiliki merek yang hebat. Anda telah bekerja keras dengan agen brand Anda, dan mereka telah mengembangkan sebuah merek yang hebat yang pasti untuk membuat Anda unggul dalam berkompetitif, dan anda ingin meningkatkan pangsa pasar di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu cepat. Ada tiga tahapan untuk memperkenalkan branding.&lt;br /&gt;Tahap 1 adalah bagian yang akrab, ketika Anda mengembangkan posisi - nama merek menangkap dan bermakna, logo merek diingat, dan tag line benar-benar menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, bagi banyak perusahaan dalam situasi ini, mereka baru memahami branding saat beberapa minggu sebelum mulai mati. Hal ini karena mereka tidak begitu memahami branding. Ini harus diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari calon pelanggan dan pelanggan, pemasok, dan pemegang saham, belum lagi karyawan Anda sendiri. Selain itu, inilah sebabnya 2 Tahap ini sangat penting, setidaknya sama pentingnya dengan Tahap 1. Tidak seorang pun ingin merek mereka konsepsi program untuk menjadi keguguran, atau lebih buruk lagi, aborsi. Tapi ini persis dengan apa yang dilakukan banyak perusahaan dan yang mereka dibayar dengan anggaran yang begitu sulit untuk mendapatkan persetujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Fase Merek Sukses&lt;br /&gt;Seperti yang kami katakan, Tahap 2 adalah tentang merek yang muncul ke dunia, ke dalam layar radar dari konsistensi untuk yang memahami. Ini melibatkan terjemahan dari merek penting ke semua cara di mana prospek dan pelanggan akan memiliki pengalaman bahwa mereka pasti akan berhubungan dengan merek Anda. Setelah semua, sisa dari pengalaman ini adalah merek nyata, salah satu yang ada di pikiran orang, salah satu yang menentukan apakah mereka akan beralih ke produk Anda, atau apakah mereka akan tinggal dengan layanan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah semua hal ini? Mereka semua agak membosankan dan tempat umum, Anda tahu, alat tulis Anda, iklan Anda, bangunan Anda, kendaraan Anda, kemasan Anda, merchandising Anda, promosi penjualan Anda, website Anda, tagihan Anda, dan bahkan lebih penting lagi, semua interaksi pribadi mereka lakukan dengan orang-orang penjualan, dealer Anda, customer service Anda, credit control Anda, dan kolega anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. fase ini bisa tidak beres dalam tiga hal penting. Yang pertama adalah kegagalan positioning merek, nama, logo, tagline, dan grafis merek yang diterjemahkan secara konsisten dalam semua komunikasi yang akan mempengaruhi persepsi yang akan menjadi merek yang nyata di pasar.&lt;br /&gt;2. Cara kedua Tahap 2 adalah kurangnya kreativitas dari pendiri yang terlibat dalam mendramatisir hal penting untuk sepenuhnya ke dalam masing-masing media yang memungkinkan (media, membaca setiap rasa dan titik sentuh antara perusahaan Anda dan konstituen, terutama pelanggan Anda, dan sebagian besar kritis, prospek Anda.&lt;br /&gt;3. Cara ketiga mungkin yang paling penting. Ini adalah kurangnya konsistensi antara residu kiri dengan media komunikasi konvensional dan pengalaman fisik produk dan orang-orang yang mewakilinya. Apa gunanya ide-ide terbaik, grafis terbaik, dan iklan yang terbaik, jika cara produk terbuka, cara kerjanya dan cara-cara di mana orang-orang Anda meninggalkan residu berperilaku sama sekali berbeda dengan komunikasi Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jika itu tidak cukup untuk memikirkan, ada Tahap 3. Mengapa 3 fase? Apakah Anda tidak cukup dilakukan jika Anda melakukan Tahap 1 dan Tahap 2 dengan baik? Sederhana. Itu karena merek, seperti orang, hidup atau mati - di WAKTU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh Kesukses&lt;br /&gt;Waktu adalah musuh terbesar dari merek, jika hanya karena orang-orang, baik sendiri, dan konstituen Anda, tidak akan kita lupakan, mereka mudah terpengaruh dan tertarik dengan penawaran lain dan acara lain akan atau terus-menerus di sekitar mereka. Tahap 3 adalah tentang konsolidasi merek Anda dengan cara yang terus-menerus menyegarkan tanpa mengabaikan salah satu konsistensi yang begitu penting dalam Fase 2. Tahap 3 adalah tentang mengiknjeksikan cara baru untuk mengkomunikasikan esensi merek di semua banyak cara yang akan diinterpretasikan dan diingat oleh konstituen Anda. Karena merek ada dalam waktu, dan karena waktu pasti membawa perubahan, juga mempengaruhi perbaikan kecil dalam inti merek, untuk mempertahankan tanah tertinggi di medan pergeseran marketflux tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maksud semua ini bagi Anda?&lt;br /&gt;Ini berarti bahwa pekerjaan Anda hanya benar-benar dimulai dengan pengembangan brand positioning baru, nama merek, logo merek, grafis merek, dan moto merek. Secara khusus, itu berarti tiga hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah untuk menetapkan juara merek internal untuk setiap jenis interaksi dengan calon pelanggan dan pelanggan, baik komunikasi, baik pengalaman, atau interaksi orang, juara yang sama-sama akan waspada dan ditentukan bahwa merek penting menginformasikan cara yang sangat di mana semua interaksi dirancang dan disampaikan. Mengejutkan karena tampaknya, juara merek paling penting di sini adalah mereka yang terlibat dalam pengembangan produk, desain, manufaktur dan kinerja aktual yang digunakan. Apakah mereka akan membuat keputusan yang tepat untuk wilayah tertentu di mana produk akan tampil di masa depan? Apakah cara-cara yang konsisten dengan tekanan dari positioning merek Anda? Lagi pula, produk atau layanan Anda, adalah komunikasi yang paling kuat yang dapat mempengaruhi perawakannya merek dan penetrasi dalam pikiran Anda konstituen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah untuk mendirikan sebuah organisasi milik internal dalam perusahaan Anda untuk menyebarkan merek baik secara internal di antara semua orang, fungsi dan departemen yang akan berinteraksi dengan masyarakat dengan cara apapun. Pemilik tidak hanya menjaga terjemahan merek ke dalam perilaku perusahaan, mereka juga harus menginfeksi dan mengilhami orang-orang Anda dengan nilai yang luar biasa dari bisnis Anda ke konstituen, sehingga rasa mereka nilai pekerjaan mereka di dunia diterjemahkan menjadi ide yang lebih banyak dan lebih baik , lebih dalam dan berhubungan yang berlangsung lebih dengan prospek dan pelanggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga adalah untuk memastikan bahwa tim branding konselor yang membantu Anda untuk mengembangkan merek yang penting selalu di tangan untuk membantu membimbing tim Anda maju ke waktu, di Fase tidak hanya 2, tetapi terutama melalui Tahap 3. Hal ini sangat penting karena dua alasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berada di luar organisasi Anda, dan kurang dibutakan oleh imperatif internal perusahaan. Mereka lebih objektif dan bisa lebih mudah melihat mengakui penyimpangan dari lurus dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengerti bisnis Anda cukup baik untuk bermitra dengan Anda dalam pengembangan ini gestalt merek, dan sehingga mereka dapat membantu Anda menginterpretasikan informasi yang Anda mengembangkan tentang kinerja perusahaan anda dalam marketflux ke dalam pengaturan yang bagus yang akan diperlukan waktu berjalan di.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang kami katakan, Anda memiliki merek yang hebat gestalt baru, ini kepentingan merek, posisi, nama, logo, tagline, dan grafis merek. Namun, merek ini masih di dalam pikiran perusahaan Anda. Ini harus lahir, dan terus tumbuh ke dalam dunia - untuk memenuhi janji bisnis Anda dalam hal pangsa pasar yang diperoleh, dan tingginya pasar dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://www.stealingshare.com/pages/How%20To%20Avoid%20Wasting%20Money%20on%20Your%20Brand.htm&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-6592395176088671764?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/6592395176088671764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/cara-menghindari-menghamburkan-uang-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6592395176088671764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6592395176088671764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/cara-menghindari-menghamburkan-uang-di.html' title='Cara Menghindari Menghamburkan Uang di Merk (Brand) Anda'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-7574641282172150802</id><published>2010-05-04T14:51:00.002+07:00</published><updated>2010-05-26T20:40:03.112+07:00</updated><title type='text'>Bagaimana membangun merek / brand yang superior</title><content type='html'>&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(74, 44, 0);" face="'Trebuchet MS',Arial,Verdana,sans-serif" size="13px"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;strong style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;(Marketing)Merek yang superior dan brand yang kuat tertancap di pikiran konsumen, merupakan impian dan keinginan hampir semua perusahaan. Semua berlomba membangun brand yang kuat dan super.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Untuk membangun merek yang super memang bukan perkara gampang, apalagi untuk produk/ merek yang baru dilounching ke pasar. Langkah awal dari sebuah produk / merek supaya menjadi super adalah mendapatkan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;trustworthiness&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dari konsumen terhadap produk itu. Dan tidak ada jalan lain untuk mendapatkan ‘kepercayaan’ dari konsumen selain daripada ‘&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;lolos dan teruji&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;/font&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;‘ di pasar yang serba kompetitip ini.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Misalnya begini, jika kita memiliki sebuah produk, katakanlah produk yang kita miliki adalah sejenis herbal yang diberi merek ’&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;a target="_blank" href="http://viagrajawa.wordpress.com/" title="Viagra Jawa - Sari Empon Empon" style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;viagra jawa&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;‘, misalnya dalam promosi yang kita sampaikan ke calon customer bahwa herbal yang kita jual dengan merek &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;strong style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;viagra jawa&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; ini dapat membantu vitalitas pria tanpa efek samping setelah diminum secara teratur 3 hari berturut-turut. Nah, promosi dan kualitas produk kita akan di uji oleh sistem pasar, apakah yang kita promosikan itu terbukti atau tidak. Misalnya tidak terbukti, berarti produk tersebut calon tereliminasi dari kompetisi persaingan produk. Tetapi jika memang apa yang kita promosikan terbukti, pada saat itulah kita baru mendapatkan&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;trustworthiness&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dari konsumen, dan ini baru langkah awal, dimana produk kita lolos dari ujian dasar dan mulai di percayai konsumen.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Baru langkah awal ?&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Ya … supaya produk / merek yang kita miliki menjadi superior atau bahkan menjadi market leader di pasaran, masih banyak hal-hal lain yang harus kita benahi dan kerjakan. Misalnya, dari segi konsep produk, inovasi produk, strategi marketing, advertising dan persepsi tentang produk kita yang harus sangat melekat dibenak konsumen sehingga memiliki &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;bonding&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; yang sangat kuat. Artinya, konsumen sangat percaya terhadap produk kita, itu berarti 99% dari merek yang kita miliki di persepsikan sebagai atribut bukan fisik.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Beberapa hal yang dapat dijadikan tolak ukur sebuah produk / merek yang superior adalah : &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Sales, Market Share, Customer Awareness, Customer Image, Customer Satisfied, Customer Loyality &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;dan&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; Stake Holder Value&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;. Persepsi yang produk kita miliki dibenak konsumen dapat di lihat dari parameter &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Customer Imege&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Customer Satisfied&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;. Sedangkan aspek penerimaan pasar di lihat dari segi &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Sales&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Market Share&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Customer Awareness&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Customer Loyality&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Stake Holder Value&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;. Kebanyakan kita lebih fokus pada aspek ‘penerimaan pasar’, padahal yang tak kalah pentingnya adalah aspek ‘persepsi’ itu sendiri.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Untuk membangun sebuah merek yang super memang banyak hal yang harus dilakukan. Selain harus mampu mempertahankan pelanggan yang sudah ada, sebuah produk juga harus mampu menarik pelanggan baru. Untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada, misalnya dengan membangun kemunitas diantara pelanggan. Contohnya: &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;komunitas pencinta motor Harley Davidson&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;. Sehingga dengan adanya komunitas tersebut, diharapkan pelanggan dengan sendirinya menjadi pelaku yang mempromosikan produk tersebut secara tidak langsung kepada orang lain. Sedangkan untuk menarik pelanggan baru dapat dilakukan dengan cara meningkatkan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;brand awareness&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, memperjelas identitas merek dan memberikan keyakinan kepada calon pelanggan bahwa produk / layanan yang di berikan benar-benar unggul, bermutu dan memiliki nilai yang tinggi. Jika hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka diharapkan produk yang kita miliki akan memiliki nilai &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;trustworthiness&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;yang tinggi di benak konsumen.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Contoh perusahaan yang terus melakukan inovasi terhadap produk dan memperjelas merek adalah Bogasari. Seperti kita ketahui, beberapa tahun lalu, mekanisme pasar di terapkan terhadap tepung terigu, artinya Pemerintah tidak memproteksi lagi perusahaan tepung terigu dalam negeri terhadap serangan atau persaingan tepung terigu luar negeri, dan tepung terigu impor boleh masuk dengan bea 0%.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Perubahan pada sistem pasar ini membuat Bogasari langsung merespon dengan melakukan langkah-langkah perbaikan pada produk dan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;brand image&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;-nya supaya selalu menjadi yang market leader di bisnis tepung terigu. Langkah-langkah penting Bogasari antara lain dengan ‘meremajakan’ kembali merek yang sudah ada, yaitu: &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;strong style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Kunci Biru&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; (KB),&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;strong style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Segitiga Biru&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; (SB) dan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;strong style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Cakra Kembar&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; (CK). Untuk meremajakan kembali ketiga merek yang berbeda ini dilakukan dengan memperbaiki penampilan/ kemasan, promosi merek yang afresif dan upaya memperjelas identitas merek pada kemasan. Bahkan dalam promosi ketiga merek tersebut, “&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;fungsi atau kegunaan&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; masing-masing merek juga di jelaskan kepada customer”. Misalnya merek ‘&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Kunci Biru&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;‘ ditujukan untuk pembuatan kue, &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;cake&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dan biscuit, Merek ‘&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Segitiga Biru&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;‘ adalah tepung terigu aneka makanan dan ‘&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Cakra Kembar&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;‘ dikhususkan untuk mie dan roti.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Dengan demikian, dapat dilihat, bahwa Bogasari mencoba memberikan pilihan, untuk kebutuhan pelanggan yang berbeda. Langkah Bogasari dalam hal inovasi produk yaitu melakukan perubahan pada sistem pengemasan produk. Jika sebelumnya Bogasari hanya memasukkan tepung terigu dalam kemasan 25 Kg yang dijual ke pedagang, dimana selanjutnya pedagang yang membungkus ulang tepung terigu tersebut dalam kemasan kecil 1/2 atau 1 kg dalam plastik bening biasa untuk dijual secara retail kepada konsumen rumah tangga.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Disini, Bogasari menyadari adanya resiko terjadinya penurunan kualitas tepung terigu tersebut dalam proses pengemasan kembali oleh padagang (repack), misalnya tercampur dengan benda-benda asing, dan ini pada akhirnya akan menurunkan nilai &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;trustworthiness&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; pelanggan terhadap tepung terigu yang di produksi oleh Bogasari. Oleh karena itu, Bogasari membuat langkah terobosan dalam hal pengemasan tepung terigunya, yaitu dengan adanya tepung terigu dalam kemasan kecil dan anti bocor, kemasannya juga lebih bagus dan yang terlebih penting adalah &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;‘merek-nya’ terpajang di kemasan&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; tersebut.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Dari contoh langkah-langkah Bogasari tersebut, dapat dilihat bahwa perusahaan harus selalu memonitor perubahan pada pelanggan terkait dengan produk, sehingga dapat dilakukan beberapa inovasi yang kadang terlihat sepele, tetapi berpengaruh besar terhadap pelanggan. Atau dengan kata lain, perusahaan harus tanggap terhadap perubahan kebutuhan pelanggan, sehingga oleh pelanggan akan dianggap ‘teman dekat’ yang mengerti dan peduli terhadap masalah yang dihadapi pelanggan (berkenaan dengan produk), dan oleh karena ini akan meningkatkan kepercayaan dan loyalitas pelanggan terhadap sebuah produk / merek.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Yang perlu di ingat dalam advertising produk / merek adalah jangan ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan oleh kompetitor. Kalau bisa produk dan advertising harus tampil beda, keluar arus, karena hal ini akan membuat produk / merek tersebut lebih mudah diingat, daripada tampil mirip atau sekedar mengikuti konsep produk dan strategi kompetitor.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Contoh dalam hal produk yang tampil beda, misalnya iklan-iklan Sampoerna, Khususnya iklan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;A mild&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Sampoerna Hijau&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;. Kedua iklan rokok tersebut sangat kreatif dalam hal mengkomunikasikan produknya kepada masyarakat luas. Konsep A Mild dibuat sportif, jenaka, cerdas dan kaya imajinasi. Iklan A mild membuat kompetitor lain ikut-ikutan dalam konsep advertising mereka. Sedangkan iklan Sampoerna Hijau diasosiasikan dengan konsep merakyat, penuh kejutan, dan “rame-rame”. Disini, Sampoerna Hijau membuat &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;positioning&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; baru sebagai rokok &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;life style&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, yaitu rokok untuk gaul beramai-ramai.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Inilah yang luar biasa dari &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;creator&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; pemasaran A Mild dan Sampoerna Hujau, mereka membuat kampanye promosi yang inovatif, bukan sekedar meniru. Iklan yang sangat menancap kuat dibenak masyarakat, baik yang merokok maupun yang bukan perokok. Dan tentu saja sulit bagi kompetitor untuk mengungguli kedua merek tersebut jika cuma menjadi &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;follower&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; tanpa inovasi dan kreativitas.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Ada beberapa inovasi yang dapat di lakukan antara lain :&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="padding: 0px; margin: 0px 0px 10px;"&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Pengembangan dan pembenahan distribusi&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Manajemen pengembangan produk (Product development)&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Manajemen sumber daya manusia yang dimiliki&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Pengembangan produk dan pelayanan&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Efisiensi dan efektivitas proses&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Aplikasi teknologi&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Akspansi pasar (termasuk edukasi pasar, model periklanan dll)&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;‘Kreativitas’ adalah kata kunci dan menjadi faktor penting dalam upaya menjadikan produk atau merek superior dimata konsumen. Dan yang perlu diingat, antara &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;persepsi merek&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dan &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;kinerja produk&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; harus berjalan bersama, jangan sampai ada kesenjangan diantara keduanya.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Ciri-ciri merek superior yaitu:&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="padding: 0px; margin: 0px 0px 10px;"&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Produk inovatif&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, artinya produk yang selalu up-date dan diperbaharui (completely renewed), supaya kekuatannya dipasar tetap terpelihara.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Proses yang inovatif&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, yaitu kondisi internal perusahaan yang diperbaiki terus menerus, sehingga tercipta produk berkualitas dengan efisiensi yang tinggi.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="padding: 0px; margin: 0px 0px 0px 20px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;u style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;Pemasaran yang inovatif&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;, misalnya kombinasi antara &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;em style="padding: 0px; margin: 0px;"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;product line&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt; dan analisis peluang pasar, identifikasi potensi pasar dan pemecahan potensi pasar kedalam bagian-bagian yang lebih kecil, misalnya berdasarkan demografi, geografi, psikografi dll, dan tentu saja perbaikan terus-menerus cara dan metode pelayanan.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; padding: 0px; margin: 0px 0px 1em; line-height: 1.4em;" align="justify"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;font class="Apple-style-span" size="medium"&gt;dikutip dari&gt;&gt; &lt;font class="Apple-style-span" style="line-height: normal; white-space: pre;" face="Tahoma,Arial,Verdana,sans-serif" size="12px"&gt;http://partisimon.com/blog/bagaimana-membangun-merek-brand-yang-superior.html&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/font&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-7574641282172150802?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/7574641282172150802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/bagaimana-membangun-merek-brand-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/7574641282172150802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/7574641282172150802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/bagaimana-membangun-merek-brand-yang.html' title='Bagaimana membangun merek / brand yang superior'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-3158021465164706521</id><published>2010-05-03T11:27:00.002+07:00</published><updated>2010-05-26T20:39:39.279+07:00</updated><title type='text'>Saat Kampanye Brand di Twitter Mulai Terasa Mengganggu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;(Marketing)&lt;/span&gt;Belakangan ini semakin banyak brand yang memanfaatkan pengguna Twitter untuk menyebarkan word of mouth, baik itu mereka yang terikat secara profesional maupun yang sukarela melakukannya. Beberapa brand melakukannya dengan cara yang elegan, seperti mengajak audiensnya untuk berkomunikasi. Namun, ada pula yang sepertinya tidak paham fungsi Twitter itu sebenarnya apa. Si brand hanya mementingkan namanya sendiri tanpa memikirkan kepedulian terhadap audiensnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa brand memang melakukannya dengan sangat keren. @blitzmegaplex salah satunya. Akun twitter miliknya dipakai sebagai media penggali masukan dan kritikan. Si pemilik akunnya melakukannya dengan manusiawi. Setiap pertanyaan yang muncul selalu mendapat tanggapan. @blitzmegaplex bahkan sempat memberikan tips di salah satu tweet-nya kemarin, agar penonton film Iron Man 2 untuk menunggu hingga kredit film selesai, karena ada kejutan di belakangnya. Hari ini @blitzmegaplex mengikuti antusiasme pengguna Foursquare untuk ikut mengundang follower-nya datang menonton Iron Man 2 bersama-sama hari Senin, demi mendapatkan Super Swarm Badge.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Brand yang paling sangat tidak keren dalam melakukan kampanyenya di Twitter adalah @kapanlagi. Pemilik akun ini sangat egois. Twitter hanya menjadi medium promosi cuplikan berita dari portalnya. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah, karena sebagai pemilik akun, ia bebas men-tweet hal apapun. Yang menjadi masalah dan pusat keegoisan adalah saat ia kini menyelenggarakan kontes RT berhadiah iPad.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melalui kontes ini, @kapanlagi mengajak follower-nya untuk meng-RT sebanyak-banyaknya tweetnya. @kapanlagi tidak peduli kalau aksinya ini akan merugikan reputasi para pengguna Twitter lainnya. Demi kontes ini, para follower @kapanlagi semakin sering melakukan RT. Para follower @kapanlagi sendiri tanpa sadar merusak reputasi yang dibangunnya sejak lama. Bukan nggak mungkin gara-gara kontes ini, para peserta kontes akan kehilangan follower-nya karena terganggu dengan RT yang mereka lakukan. Melalui kontes ini @kapanlagi hanya mengejar traffic kunjungan ke situsnya tanpa memperhatikan fungsi Twitter sesungguhnya, yakni untuk percakapan, seperti terbaca di aturan main kontes ini di bagian terakhir: “KapanLagi.com™ tidak melakukan komunikasi mengenai program ini melalui Twitter karena akan memenuhi Timeline kami.” Hmm, terasa salah nggak membaca aturan main ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal serupa juga sempat dilakukan oleh @hanyaoreo, meski tidak separah @kapanlagi. Seperti @blitzmegaplex, @hanyaoreo juga melakukan komunikasi dengan audiensnya, dan memang itu sesuatu yang menarik dan keren. Namun dahulu @hanyaoreo sempat membuat kontes unik-unikan menulis tweet dengan kata Oreo di dalamnya. Setiap peserta diminta berkreasi dengan menambahkan @hanyaoreo di BELAKANG tweet. Ini tak berbeda dengan kampanye hashtag. Pengguna Twitter “terpaksa” melihat aksi kontes yang dilakukan oleh pengguna yang mereka follow.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan lebih baik jika kontes seperti ini dilakukan dengan langsung me-reply @hanyaoreo (menempatkan @hanyaoreo di kata paling DEPAN), sehingga yang bisa melihat tweet ini hanyalah mereka yang juga mem-follow akun @hanyaoreo). Cara seperti ini dulu dilakukan @rumahdara saat promosi filmnya, sehingga bagi yang tidak tertarik tidak terbebani membaca tweet temannya yang tidak relevan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, menurut kalian, cara-cara kontes seperti apa yang baik dilakukan oleh brand, tapi tidak mengganggu kenyamanan follower yang sudah kalian raih dengan susah payah?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://media-ide.bajingloncat.com/2010/05/02/saat-kampanye-brand-di-twitter-mulai-terasa-mengganggu/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-3158021465164706521?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/3158021465164706521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/saat-kampanye-brand-di-twitter-mulai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/3158021465164706521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/3158021465164706521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/05/saat-kampanye-brand-di-twitter-mulai.html' title='Saat Kampanye Brand di Twitter Mulai Terasa Mengganggu'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-6593349033757991683</id><published>2010-04-24T19:36:00.005+07:00</published><updated>2010-05-26T20:39:11.616+07:00</updated><title type='text'>6 langkah untuk mengembangkan Public Relations dan Media</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;oleh.:  Laura Lake&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Marketing)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ahli Marketing akan memberitahu Anda bahwa hubungan masyarakat terencana kampanye seringkali jauh lebih efektif daripada iklan.Ini akan membantu Anda dalam mengembangkan dan menciptakan inti dari kampanye PR Anda dalam enam langkah mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 1: Menentukan dan menuliskan tujuan Anda untuk publicity atau media plan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anda akan mendesain kampanye public relations anda? Apakah akan dirancang untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Membangun keahlian Anda di antara rekan-rekan Anda, the press, atau klien potensial atau pelanggan?&lt;br /&gt;*Membangun goodwill antara pelanggan, pemasok, atau komunitas Anda?&lt;br /&gt;*Membuat dan memperkuat brand dan citra perusahaan yang profesional?&lt;br /&gt;*Menginformasikan dan menciptakan persepsi yang baik mengenai perusahaan dan jasa Anda?&lt;br /&gt;*Membantu Anda dalam memperkenalkan layanan baru atau produk untuk pasar Anda?&lt;br /&gt;*Menghasilkan penjualan ?&lt;br /&gt;*Mengurangi dampak publikasi negatif  atau krisis perusahaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya mengatakan hal ini di awal  yang seharusnya untuk menunjukkan pada Anda bagaimana membuat dan mengembangkan rencana publisitas? Jawabannya adalah mudah. Agar Anda dan media rencana publisitas menjadi sukses itu hal pertama yang paling penting untuk menentukan dan menetapkan tujuan Anda. Dengan tujuan yang jelas dalam pikiran Anda telah meletakkan karya dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2: Tentukan tujuan Anda dalam mencapai tujuan ini. Sangat penting bahwa tujuan Anda harus spesifik, terukur, berorientasi pada hasil dan waktu yang mengikat. Tujuan ini harus sejalan dengan bisnis Anda secara keseluruhan, pemasaran, dan penjualan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 3: Tentukan target audiens Anda yang terdiri dari. Siapakah yang ingin Anda jangkau dengan kampanye ini? Anda ingin pensan anda seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 4: Mengembangkan jadwal untuk kampanye relasi publik. Menciptakan sinergi dengan rencana umum Anda bertepatan hubungan dengan usaha pemasaran dan penjualan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 5: Mengembangkan rencana Anda dari serangan. Apa kendaraan komunikasi yang akan Anda gunakan untuk mmenyampaikan pesan Anda ke publik? Contoh-contoh dapat termasuk:&lt;br /&gt;-Siaran pers&lt;br /&gt;-Artikel&lt;br /&gt;-Customer Success Stories&lt;br /&gt;-Surat untuk Editor&lt;br /&gt;-Konferensi Pers, Wawancara, atau Media Wisata&lt;br /&gt;-Radio, televisi, atau Tekan Wawancara&lt;br /&gt;-Seminar&lt;br /&gt;-Acara Sponsor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih tiga dari daftar dan mulai meneliti dan mengembangkan pendekatan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 6: langkah-langkah pasang di tempat untuk melacak hasil PR Kampanye. Setelah setiap kampanye, duduk dan meninjau hasil. Apakah Anda mencapai tujuan yang ditetapkan dari kampanye ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://marketing.about.com/cs/publicrelations/a/prplan6steps.htm&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-6593349033757991683?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/6593349033757991683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/oleh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6593349033757991683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6593349033757991683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/oleh.html' title='6 langkah untuk mengembangkan Public Relations dan Media'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-1536318800501567910</id><published>2010-04-21T13:54:00.006+07:00</published><updated>2010-05-26T20:37:04.610+07:00</updated><title type='text'>6 Tanda brand yang lemah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Branding)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tidak mudah meyakinkan orang untuk menginvestasikan waktu mereka yang berharga, perhatian dan tentu saja uang di merek Anda, setidaknya tidak seperti dulu, dan itu tidak mudah untuk meyakinkan pemilik usaha dan pengusaha untuk menginvestasikan waktu dan uang di merek mereka. Mengapa? ada banyak alasan untuk menjelaskan situasi ini, beberapa di antaranya adalah:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;    * Karena ketidak tahuan tentang pentingnya dan kekuatan merek yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;   * Karena mereka tidak ingin berinvestasi dalam sesuatu yang mereka anggap berharga (Salah)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;    * Karena mereka tidak percaya dengan sesuatu yang tidak berwujud&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;    * Karena mereka lebih memilih untuk fokus pada aspek lain dari bisnis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;Tapi ada ratusan alasan. Sebenarnya saat ini dengan peningkatan jumlah pesaing di segala bidang dan industri yang lebih penting adalah untuk berfokus pada jiwa dan citra bisnis. Mungkin ada ribuan orang yang menawarkan produk yang sama seperti yang Anda lakukan, dan dengan kualitas yang sama, maka Anda perlu sesuatu yang lebih, sebuah merek yang kuat dan relevan. Berikut&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;adalah beberapa hal yang mungkin ingin anda pikirkan apakah brand anda termasuk lemah atas tidak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;- Tidak ada yang bisa mengingat logo dan gambar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;- Nilai perusahaan Anda adalah jumlah aktiva berwujud milik Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;- Anda tidak dapat menentukan dalam satu kalimat merek Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;- Anda tidak dapat menentukan apa yang membedakan Anda dari pesaing langsung Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;- Merek Anda tidak memiliki visi, misi atau nilai-nilai sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;- Jika seseorang mengetahui bisnis Anda, mereka tahu tentang hal itu karena Anda dan bukan &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;karena merek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;Itu adalah tanda-tanda kuat yang memberitahu bahwa Anda memiliki merek yang lemah, jika Anda memiliki setidaknya salah satu dari mereka, Anda pasti melakukan sesuatu yang salah. Cobalah untuk mendefinisikan apa masalahnya, dan fokus dalam memecahkan masalah tersebut, ingat bahwa Anda harus menjaga citra bisnis dan semua merek Anda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:verdana;"&gt;dikutip dari http://bloggerlounge.dakno.com/2007/04/09/six-signs-of-a-weak-brand/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-1536318800501567910?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/1536318800501567910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/berikut-adalah-tanda-tanda-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1536318800501567910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1536318800501567910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/berikut-adalah-tanda-tanda-yang.html' title='6 Tanda brand yang lemah'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-6656127088114213526</id><published>2010-04-14T13:50:00.002+07:00</published><updated>2010-04-14T13:53:15.733+07:00</updated><title type='text'>Branding, Power &amp; Management.</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"   style="  color: rgb(68, 68, 68); line-height: 16px; font-family:'Lucida Grande', Verdana, Arial, sans-serif;font-size:9px;"&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Branding, merupakan sebuah kata yang berasal dari kata dasar Brand, yang berarti Merk. Akan tetapi, ketika kita mencari arti kata Branding didalam kamus bahasa inggris, kita tidak akan menemukan arti yang sesuai.  Sedangkan begitu banyak macam pengertian branding yang bertebaran didunia maya hingga buku sekalipun, yang tentunya bisa membingungkan kita. Lalu bagaimana arti branding seharusnya ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Didalam hal ini, saya menterjemahkan kata Branding dengan arti Memperkuat merek produk ataupun jasa. Kita semua mengetahui, bahwa fungsi dasar dari sebuah merek adalah sebagai pembeda antara yang satu dengan yang lainnya. Namun, dengan adanya dinamika didalam derasnya kompetisi pasar, sebuah  merek membutuhkan kekuatan dan pengelolaan. Unsur-unsur yang mempengaruhi kekuatan sebuah merek adalah, dari apa yang anda lihat (tangible), dan dari apa yang anda dengar dan yang anda rasakan (intangible).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kedua unsur diatas merupakan syarat utama untuk membangun kekuatan sebuah merek didalam kompetisi pasar. Lalu, elemen apa saja yang terdapat di kedua unsur tersebut ? Elemen-elemen yang terdapat didalam kedua unsur tersebut adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 35px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;li style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 3px; margin-left: 0px; list-style-type: decimal; list-style-position: outside; list-style-image: initial; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Tangible : Produk, packaging/kemasan, identitas visual, dsb.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 3px; margin-left: 0px; list-style-type: decimal; list-style-position: outside; list-style-image: initial; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Intangible : Kualitas produk dan jasa.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kedua unsur inilah yang harus kita kelola dengan baik. Didalam pengelolaan sebuah brand, memang bukanlah hal yang mudah, karena kita harus berani menyadari dan mengevaluasi kekurangan dan kelemahan yang terdapat di produk ataupun jasa yang kita miliki, mulai dari desain kemasan/packaging yang tidak outstanding, desain identitas visual yang buruk, kualitas produk yang kurang bisa bersaing, pelayanan yang tidak ramah-klien, dsb. Dengan adanya evaluasi dan kesadaran itu, sebaiknya kita harus segera membenahi dalam waktu secepat mungkin. Mengapa ? Karena ini berkaitan erat dengan citra dari Brand yang anda miliki. Lalu apa hubungan antara branding dengan pencitraan ? Nah, kini saatnya kita mengetahui hubungan branding dengan pencitraan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Branding adalah pencitraan itu sendiri. Citra didalam arti kata adalah gambar (Inggris: image), sedangkan didalam pola pikir masyarakat dan konsumen, citra sering kali di identikan dengan sesuatu yang tidak tampak atau kesan yang dirasakan. Didalam hal ini, pencitraan bukanlah tujuan dari branding, karena branding adalah pencitraan itu sendiri (seperti yang saya katakan diawal tulisan). Jika branding adalah pencitraan, maka branding adalah sesuatu yang sangat krusial, dan yang menentukan hidup matinya sebuah merek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Didalam hal ini, Untuk memperkuat Citra yang terlihat secara visual (tangible), memang membutuhkan pihak yang  mempunyai kapabilitas dan pengalaman, sedangkan untuk memperkuat Citra yang tidak terlihat (intangible), itu adalah tugas dari perusahaan yang memproduksi produk itu sendiri. Terlepas dari semua itu, ini adalah pilihan anda, dan kami hanya menawarkan solusi yang terbaik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;em style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Satriyo Niti Atmojo, Vordava.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; margin-top: 13px; margin-right: 0px; margin-bottom: 13px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dikutip dari&gt;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color: rgb(0, 0, 0);  font-style: normal; line-height: normal; white-space: pre; font-family:Tahoma, Verdana, Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;http://vordavadesignstudio.wordpress.com/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-6656127088114213526?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/6656127088114213526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/branding-power-management.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6656127088114213526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/6656127088114213526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/branding-power-management.html' title='Branding, Power &amp; Management.'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-8757777653345627685</id><published>2010-04-14T12:31:00.001+07:00</published><updated>2010-04-14T12:35:00.434+07:00</updated><title type='text'>Strategi Social Media Marketing Perlu Riset dan Insight</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh Nukman Luthfie&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mantra Social Media Marketing &amp;amp; Public Relations yang selama ini banyak didengung-dengungkan hanya dua. Yakni &lt;b&gt;conversations&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;engagement&lt;/b&gt;. Seperti disebut oleh The Cluetrain Manifesto: Markets are conversations. Di era social media, konsumen bukan lagi individu-individu pembeli, namun berjejering, yang saling bercakap-cakap satu sama lain. Jejaring konsumen yang saling bertukar info inilah yang membuat pasar menjadi kian cerdas dan kritis. Apa boleh buat, iklan tradisional via media (radio, cetak, teve, dan bahkan web) dan berbagai taktik marketing lain yang berjaya di era sebelum social media, kini tidak cukup lagi untuk merebut hati konsumen.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perusahaan/merek harus melengkapi strategi pemasaran tradisional mereka dengan pemasaran media sosial yang karakternya adalah percakapan (conversations). Tentu saja, percakapan itu pada suatu titik harus bisa meningkat ke tahap engagement supaya bukan hanya meningkatkan brand awareness, tetapi juga dapat menciptakan penjualan dan loyalitas merek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dua mantra inilah yang selama ini banyak dipraktekkan perusahaan/merek Indonesia di berbagai medium sosial terutama Facebook dan Twitter. Mereka biasanya membuat akun di Facebook dan Twitter, melengkapinya dengan Fanpage dan lain-lain. Kemudian, mereka sibuk membangun percakapan dengan pengguna media sosial melalui akun-akun tersebut, dengan berbagai taktik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada yang berhasil. Banyak yang gagal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa? &lt;b&gt;Karena dua mantra conversations dan engagement itu baru benar separo.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benar separo? Ya!.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya perhatikan, kebanyakan perusahaan/merek melakukan percakapan yang sesungguhnya tidak bermakna untuk konsumen sehingga lama-kelamaan eksistensi mereka di media sosial diabaikan oleh pengguna media sosial. Perhatikan, banyak akun merek di media sosial yang jumlah fans/follower/friends – nya terbatas. Kalau pun banyak, setelah diteliti lebih dalam, tidak melakukan percakapan. Para fans/follower/friends yang banyak itu menjadi fans/follower/friends “mati”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kondisi seperti itu, peningkatan status dari “conversations” ke “engagement” adalah kemustahilan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kecuali manajemen media sosialnya yang kurang tepat, perusahaan/merek yang gagal di media sosial kemungkinan besar karena melangkah terburu-buru tanpa dilandasi dua matra lain: riset dan insight!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini terbukti dari banyak kasus, budget perusahaan/merek untuk dua hal tadi nol besar di Social Media Marketing &amp;amp; PR.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal kita tahu, riset “mengapa konsumen bersedia menjadi fans/follower/friends sebuah merek” misalnya, sangat menentukan content yang dibawa ketika membangun “conversation“. Padahal kita tahu, kepingan informasi kecil pun bisa menjadi insight yang bagus membangun “conversations” yang mengarah ke “engagement”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka, dari sudut pandang saya,  Social Media Marketing bukan hanya conversations dan engagement semata. Namun conversations dan engagement yang dilandasi oleh &lt;b&gt;riset&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;insight&lt;/b&gt; terus menerus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://virtual.co.id/blog/cyberpr/strategi-social-media-marketing-perlu-riset-dan-insight/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-8757777653345627685?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/8757777653345627685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/strategi-social-media-marketing-perlu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8757777653345627685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8757777653345627685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/strategi-social-media-marketing-perlu.html' title='Strategi Social Media Marketing Perlu Riset dan Insight'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-344250855331064367</id><published>2010-04-01T13:56:00.004+07:00</published><updated>2010-05-25T20:02:40.298+07:00</updated><title type='text'>Apa itu branding dan Seberapa penting untuk strategi pemasaran</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;(Branding,Marketing)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;American Marketing Association (AMA) mendefinisikan merek sebagai nama , istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari semua itu yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa dari satu perusahaan atau kelompok perusahaan dan untuk membedakan mereka dari perusahaan lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oleh karena itu sangat masuk akal bahwa untuk memahami branding yang bukan sekedar mengejar target pasar untuk memilih anda dalam persaingan, tetapi tentang mendapatkan prospek bahwa anda adalah satu-satunya yang bisa memberikan solusi untuk masalah mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berikut adalah tujuan merek yang baik:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* Memberikan pesan jelas&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* Mengkonfirmasi kredibilitas Anda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* Menghubungkan secara emosional dengan calon pelanggan Anda&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* Memotivasi pembeli&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* Beton (dasar) loyalitas paengguna&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk berhasil dalam branding, Anda harus memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan serta prospek mereka. Anda melakukan ini dengan mengintegrasikan strategi merek Anda melalui perusahaan Anda di setiap titik kontak publik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Merek Anda tinggal di dalam hati dan benak pelanggan, klien, dan prospek. Ini adalah jumlah total dari pengalaman mereka dan persepsi, beberapa yang dapat mempengaruhi, dan beberapa yang tidak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebuah merek yang kuat sangat berharga sebagai pertempuran untuk mengintensifkan pelanggan dari hari ke hari. Sangat penting untuk menghabiskan waktu dalam meneliti, mendefinisikan, dan membangun merek Anda. Setelah semua merek Anda adalah sumber dari janji kepada konsumen Anda. Ini adalah bagian mendasar dalam komunikasi pemasaran Anda dan anda tidak akan berhasil tanpa mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://marketing.about.com/cs/brandmktg/a/whatisbranding.htm&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-344250855331064367?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/344250855331064367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/apa-itu-branding-dan-seberapa-penting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/344250855331064367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/344250855331064367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/apa-itu-branding-dan-seberapa-penting.html' title='Apa itu branding dan Seberapa penting untuk strategi pemasaran'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-8508089992583462031</id><published>2010-04-01T10:56:00.003+07:00</published><updated>2010-05-25T19:51:07.702+07:00</updated><title type='text'>Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media.</title><content type='html'>&lt;div&gt;Oleh Adhitia Sofyan,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Creative Director Virtual Consulting,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;www.virtual.co.id&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Marketing)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;“Nanti siang meeting di brand x, mereka mau masuk ke social media”, kata  seorang rekan di kantor pagi itu. Yak, meeting dengan agenda ini  menjadi sangat sering terjadi sekarang. Semua brand mau masuk ke  Facebook, semua brand mau nyemplung di Twitter. Kenapa? Ya simple,  karena kita semua sedang ngumpul disitu sekarang, gak lagi melulu di  depan tivi, atau radio atau baca media cetak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Social media adalah tempat manusia biasa (baca : bukan brand) berkumpul  dan berkomunikasi. Tentu saja caranya sangat bebas, apa adanya dan  spontan, karena Facebook, Twitter dan Blog bukanlah milik brand seperti  halnya product site. Cara biasa brand berkomunikasi yang kaku, sangat  iklan, selalu ingin sempurna tanpa cacat tidak akan berhasil di social  media. Brand harus menyesuaikan diri, melepas atribut-atribut  korporatnya yang dinilai kaku dan tampil lebih luwes di social media;  jujur, spontan, mendengarkan konsumen, mendengarkan konsumen,  mendengarkan konsumen, ya, saya sebut 3 kali memang, dan engage dengan  mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebaliknya daripada yang diatas (lah…kok kayak srimulat), dengan  berpartisipasinya kita (manusia biasa, non-brand) di social media;  Facebook, Twitter, blog dsb, mau tidak mau kita sudah menempatkan diri  sebagai brand. Kita menulis di online biodata, siapa kita, what we  believe and stand for, dan berkomunikasi berdasarkan poin-poin tadi,  terkadang kita juga jadi menjaga diri, berhati-hati pasang status FB  atau pikir-pikir sebelum nge-tweet biar gak malu-maluin, nah…you’re  acting like a brand now!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sayangnya tidak sedikit manusia (non-brand) yang suka lupa bahwa social  media adalah ruang publik; ada friends dan followers yang semuanya bisa  melihat apa yang kita ‘sajikan’ di social media. Friends dan followers  ini adalah jaringan besar daripada friends dan followers  lain yang  saling bisa berkomunikasi dan mem-forward konten. Mau tidak mau, dengan  keikutsertaan kita di social media berarti kita dengan sukarela telah  menjadikan diri kita sebagai bahan tontonan buat orang banyak. Tidak  jarang masalah serta konflik personal muncul karena sang manusia kurang  bisa menjaga, me-manage dan menahan diri di social media.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah, sebetulnya di social media, brand dan manusia bisa saling belajar  dari masing-masing. Brand yang terlalu nge-brand; kaku, membosankan,  korporatif, takut salah, gak mau dengerin orang, mau sempurna terus dll  bisa belajar untuk agak santai dan luwes dari manusia (which I found  this should be easy since brands are handled by humans anyway, is that  they tend to forget that they are humans and become boring marketing  machines when they go to office and become the brand they’re working  for).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Now, manusia bisa belajar dari brand dalam berkomunikasi di social  media. Mungkin bisa mulai mencantumkan data diri yang kredibel (or  yeah..you can keep it as ‘weird space alien dorkface’ if you’d like),  mulai me-manage diri dalam ber-social media; apa yang mesti atau tidak  semestinya di share ke publik, info apa yang patut dipasang atau tidak,  berpikir sebelum nge-tweet, safe atau tidak tweeting-an saya ini,  bagaimana kalau dilihat followers, ingat-ingat siapa saja yang  mem-follow atau friends kita, apakah kita sudah mempelajari dan memahami  cara Facebook dan Twitter (misal) bekerja dll dsb.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;- Misal :RT in Twitter does not mean Reply Tweet, and Twitter is not  Yahoo Messenger (chatting  hahahihi gak penting di Twitter) nor it is an  sms-ing platform ,(“Eh, gue udah nyampe nih, lu dimana?” via Twitter).  Ignore these and you might be perceived as annoying and ignorant.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Intinya common sense saja, you should act depending on where you are,   kalau di kamar mandi, silakang bertingkah seperti di kamar mandi, kalau  di warung, monggo bertingkah seperti di warung, kalau di masjid ya  sadarlah kalau sedang di masjid,  kalau di gala dinner ya you should now  what to do, dan demikian pula kalau sedang di social media. Know where  you are, brand, manusia, selamat datang di social media, mari saling  belajar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://virtual.co.id/blog/social-media/brand-dan-manusia-bisa-saling-belajar-di-social-media/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-8508089992583462031?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/8508089992583462031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/brand-dan-manusia-bisa-saling-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8508089992583462031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8508089992583462031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/04/brand-dan-manusia-bisa-saling-belajar.html' title='Brand dan Manusia Bisa Saling Belajar di Social Media.'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-9159635136217607467</id><published>2010-03-30T14:00:00.003+07:00</published><updated>2010-05-25T19:50:56.464+07:00</updated><title type='text'>Pemanfaatan Facebook Page untuk Membangun Brand</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;(Marketing)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;Tahun-tahun kemarin, banyak sekali brand aktif membangun microsite. Dengan nama domain baru yang umumnya mengikuti nama program kampanyenya, brand membangun awareness-nya melalui situs yang sifatnya temporer. Umumnya fitur situsnya lengkap dengan game berhadiah, untuk memancing banyaknya pengunjung. Sekarang saat orang ramai bergabung dan bermain di dalam Facebook, masihkah relevan brand membangun sebuah microsite?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, tergantung dari tujuan membangun microsite itu sendiri. Kalau memang perlu mengeksposur brand ke konsumen, dan memberikan pemahaman tentang brand kepada konsumen, tentu microsite masih diperlukan. Namun, kalau tujuan membangun microsite itu adalah untuk membangun komunitas, maka lupakan membangun microsite, karena keberhasilannya akan kecil. Daripada bersusah payah mendatangkan orang untuk bergabung dalam komunitas sebuah microsite, kenapa tidak berpikir terbalik? Mengapa tidak microsite yang datang kepada komunitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Facebook Page&lt;/strong&gt; menjadi salah satu alternatifnya. Yang membedakan fitur ini dengan fitur Facebook lainnya adalah, kita tidak perlu menjadi anggota Facebook untuk melihat kontennya. Semua halaman Facebook Page terindeks oleh Google, seperti situs-situs umum lainnya. Facebook Page memang didesain untuk publik, dan tidak terikat unsur privacy seperti Facebook Profile dan Facebook Groups. Facebook Page bebas dipakai untuk kebutuhan komersial, jadi brand apapun boleh memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Facebook yang tertarik dengan halaman tersebut bisa menjadi fan-nya. Meski menjadi fan dari sebuah Facebook Page, bukan berarti si pemilik halaman lalu bisa mengakses data pribadi para fan ya. Pengelola Facebook tentunya sangat berhati-hati akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa saja fitur Facebook Page yang bisa dimanfaatkan oleh brand?&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;The Wall&lt;/strong&gt;, standar fitur komentar yang dipakai oleh Facebook.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Discussion Board&lt;/strong&gt;, forum diskusi sederhana. Jadi ingat, dulu ada beberapa brand mencoba membangun forum di microsite-nya tapi kenyataanya sepi pengunjung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Notes&lt;/strong&gt;, semacam mini blog, yang bisa diadaptasi untuk penyampaian berita dan liputan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Events&lt;/strong&gt;, kalau brand punya kegiatan offline, manfaatkan fitur ini untuk mengingatkan para fan-nya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Photos&lt;/strong&gt;, berupa galeri foto yang bisa dikirimkan oleh pemilik halaman, maupun para fan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Video&lt;/strong&gt;, berupa galeri video yang bisa dikirimkan oleh pemilik halaman, maupun para fan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Flash Player&lt;/strong&gt;, dimana pemilik halaman bisa memasang file Flash, misalnya memasang advergame.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Music Player&lt;/strong&gt;, bila pemilik halaman adalah artis, ia bisa memasang track lagunya di sini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Reviews&lt;/strong&gt;, berupa fasilitas review untuk promosi film.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Static FBML&lt;/strong&gt;, untuk hal-hal lainnya, misalnya brand ingin menaruh tautan unduhan wallpaper, atau bentuk halaman statis lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masih kurang puas? Bisa manfaatkan aplikasi pihak ketiga yang sudah ada dan siap pasang. Kalau masih belum puas juga, bisa juga membuat aplikasi Facebook sendiri yang bisa dipasang di Facebook Page.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski fitur Facebook Page lengkap, bukan berarti keberadaan microsite menjadi hilang. Ada batasan-batasan tertentu dalam melakukan branding Facebook Page. Kita hanya bisa mendesain sebatas yang diberikan oleh aturan Facebook. Jelas Facebook juga nggak ingin branding-nya hilang, seperti profil-profil anggota di Friendster atau MySpace yang terlihat berantakan tata letaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tidak semua kampanye online juga cocok dilakukan dengan Facebook Page, karena ada batasan fleksibilitas, dibandingkan kita membuatnya sendiri di situs terpisah. Namun yang bisa kita lakukan adalah membuatnya agar saling melengkapi. Bisa jadi Facebook Page ini menjadi salah satu gerbang masuk ke microsite. Facebook Page menjadi kendaraan awareness awal untuk mereka yang menjadi anggota Facebook. Saat mereka tertarik dengan info di Facebook Page, bisa jadi mereka akan langsung mendatangi microsite untuk membaca info atau berinteraksi yang lebih detil di sana.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dikutip dari&gt;&gt; http://media-ide.bajingloncat.com/2009/02/08/pemanfaatan-facebook-page-untuk-membangun-brand/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-9159635136217607467?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/9159635136217607467/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/pemanfaatan-facebook-page-untuk.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/9159635136217607467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/9159635136217607467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/pemanfaatan-facebook-page-untuk.html' title='Pemanfaatan Facebook Page untuk Membangun Brand'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-8302909051586887289</id><published>2010-03-25T10:17:00.000+07:00</published><updated>2010-03-25T10:18:14.761+07:00</updated><title type='text'>Merangkul Blogger untuk Promosi Brand</title><content type='html'>Beberapa bulan lalu Toyota-Astra Motor mengundang beberapa blogger untuk menghadiri launch Corolla Altis. Blogger (mungkin) dianggap bisa menyuarakan secara lebih personal apa yang dialaminya. Tentunya dengan harapan para pembaca blog tersebut ikut tahu dan tertarik dengan apa yang disampaikan blogger tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren ini ternyata terus berlanjut. Belum sebulan berlalu, sudah ada 2 event berbeda yang turut mengundang blogger. Konferensi pers yang dilakukan Pond’s kala peluncuran iklan berseri Bunga Citra Lestari ikut pula mengundang beberapa blogger sosialita (baca: gaul). Tak berapa lama kemudian, Sunsilk dengan Krisdayanti mengundang blogger yang sama untuk datang pada peluncuran buku “Hidup Tak Bisa Menunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penyelenggara event ini berharap para blogger mau menuliskannya dengan sukarela di blog masing-masing. Tentunya dengan cara pandang masing-masing blogger. Terserah apakah tulisan itu bernada positif atau negatif, semua dikembalikan ke setiap blogger. Bahkan, kalau pun tidak ada blogger yang menuliskan pengalamannya, mereka pun tidak akan memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lain namun dengan harapan hasil yang relatif sama adalah dengan meminta para blogger menuliskan advertorial di blognya. Blogger dibayar untuk melakukan review untuk suatu produk atau program promo yang diselenggarakan oleh brand. Produk atau detil program promo dikirimkan kepada para blogger, yang lalu diminta untuk menuliskan pengalamannya melalui sebuah tulisan di blog. Tentunya, isi tulisan dibebaskan. Terserah cara pandang dan pengalaman masing-masing blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kegiatan promo dalam blog itu punya tujuan serupa, yakni membangun buzz atau word of mouth. Semakin banyak blogger yang menuliskan hal tersebut, semakin ramai topik itu diperbincangkan dalam blogosphere. Semakin ramai diperbincangkan, brand yang dibicarakan pun menjadi semakin populer. Selanjutnya, tinggal kelihaian dari brand sendiri (atau agency komunikasi yang mewakilinya) untuk ikut aktif berbicara di dalam setiap blog tersebut, sehingga percakapan bisa terus terjadi secara positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diungkapkan oleh Hermawan Kartajaya di tulisan terbarunya tentang New Wave Marketing, promosi satu arah seperti yang dilakukan melalui TV, radio, ataupun media cetak, sudah tidak cukup lagi. Konsumen tidak mudah percaya begitu saja apa kata brand. “Kebenaran” yang ada tidak lagi dari sisi brand saja. Mereka lebih percaya bila “kebenaran” itu terjadi melalui percakapan yang setara antara pihak brand dan konsumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dituliskan seorang blogger seakan-akan bisa mengklarifikasi keraguan konsumen. Konsumen menjadi lebih percaya akan brand tersebut karena sudah ada orang lain yang mentestimonikan pengalamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang pertanyaannya, apakah benar para blogger ini bisa memberikan dampak positif seperti yang diekspektasikan oleh brand? Apakah proses percakapan antara brand dan konsumen benar-benar terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Berdasarkan pengamatan dari beberapa komentar di blog seputar liputan atau advertorial, ternyata brand belum memanfaatkannya secara maksimal. Mereka masih berdiam pasif memantau setiap komentar, tanpa bertindak memelihara percakapan. Blog sepertinya masih dianggap hanya sebatas media semata. Sepanjang blogger sudah menuliskan pengalamannya, sudah dianggap cukup. Isi komentar dan balasannya masih belum terlalu dipedulikan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dikutip dari&gt;&gt;  http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/18/merangkul-blogger-untuk-promosi-brand/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-8302909051586887289?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/8302909051586887289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/merangkul-blogger-untuk-promosi-brand.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8302909051586887289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8302909051586887289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/merangkul-blogger-untuk-promosi-brand.html' title='Merangkul Blogger untuk Promosi Brand'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-79321946611481225</id><published>2010-03-19T11:37:00.003+07:00</published><updated>2010-05-25T19:49:49.930+07:00</updated><title type='text'>Brand Jangan Bermain-main di Social Media</title><content type='html'>&lt;div id="top-box"&gt;&lt;div class="left-deepbox"&gt;&lt;p&gt;November 18, 2009&lt;br /&gt;&lt;a href="http://virtual.co.id/blog/cyberpr/brand-jangan-bermain-main-di-social-media/#"&gt;&lt;strong&gt;Oleh  Nukman Luthfie&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;(marketing)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;Beberapa bulan terakhir ini saya bertemu dengan banyak Brand  Manager dan Marketing Manajer, atau PR Manager, yang tertarik memasukkan  produk/brandnya ke social media, entah ke Facebook maupun ke Twitter.  Kesan saya mereka amat sangat (ya amat sangat) ingin eksis di social  media, entah karena terpukau oleh konsep &lt;em&gt;Low Cost High Impact&lt;/em&gt;  atau memang sadar marketing. Namun pada saat yang sama mereka tidak  memahami konsekwensinya, baik dari sisi manajemen, budgeting maupun  peluang berhasilnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya akan kupas satu per satu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama, soal manajemen.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Social media adalah medium komunikasi, yang bukan hanya dua arah,  antara konsumen dan produsen, tetapi multi arah, sebuah komunikasi  horizontal yang “kacau-balau” antarkonsumen, antarkosumen-produsen.  Jenis komunikasi seperti ini sangat jarang dirasakan dan dialami oleh  brand manager yang hanya terbiasa dengan komunikasi satu arah (produsen  ke konsumen) dan dua arah (antarkonsumen-produsen). Komunikasi searah  dan dua arah relatif mudah dikendalikan arahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun komunikasi multiarah, yang melibatkan konsumen dengan konsumen  nyaris tidak bisa dikendalikan yang bisa berpotensi merusak brand, atau  sebaliknya: justru meningkatkan nilai brand. Itu sebabnya, banyak Brand  Manager, Marketing Manager, PR Manager yang terkaget-kaget dengan  komunikasi ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siapkan manajemen dengan komunikasi multiarah ini? Faktanya,  kebanyakan tidak siap. Terbukti dari keenganan perusahaan untuk  investasi SDM khusus dan/atau alihdaya untuk mengelola social media.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua, soal budgeting.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka yang terbius dengan konsep &lt;em&gt;Low Cost High Impact&lt;/em&gt; akan  beranggapan bahwa pemasaran lewat social media itu murah meriah  sekaligus memberikan hasil yang besar. Barangkali mereka lupa bahwa yang  disebut “low cost” itu relatif terhadap marketing tradisional via iklan  TV dan media konvensional lain. Bukan sekadar asal &lt;em&gt;low cost&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Budget eksis di social media, memang terkesan murah. Pertama, eksis  di Facebook dan Twitter boleh dibilang gratis. Kita dapat membuat akun  Facebook (termasuk Fanpages-nya) tanpa biaya. Demikian pula di Twitter  dan social media lain. Budget promosi di social media pun relatif rendah  karena iklannya targeted, hanya menembak target audience yang kita  sasar saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun jangan lupa, masuk ke social media pun butuh strategi, yang  tentu saja punya nilai Rupiahnya. Belum lagi, perlu SDM yang cukup, yang  paham social media dan komunikasi online, sehingga dapat mengelola  eksistensi brand di social media selama 24 jam sehari, dan tujuh hari  sepekan. Plus, karena komunikasinya via Internet semua, budget  komunikasi Internet ini juga harus dimasukkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu belum termasuk budget marketing gimmick berupa kupon diskon dan  sejenisnya untuk menjaga loyalitas konsumen yang bergabung di social  media.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga, peluang berhasil.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebanyakan brand manager merasakan mudahnya masuk social media karena  banyaknya fasilitas untuk membangun komunikasi multiarah baik di  Facebook maupun Twitter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ditambah lagi, beberapa studi kasus keberhasilan brand mengadopsi  social media bertebaran di mana-mana. Dell dan Starbucks selalu menjadi  inspirasi banyak brand manager untuk mendulang sukses yang sama di  social media.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sayangnya, kita melupakan faktor penting yang mendorong keberhasilan  dua merek kondang itu. Salah satu faktor terpenting adalah: kedua brand  itu sudah terbiasa bercakap-cakap dengan konsumennya baik di offline  maupun di dunia maya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dell misalnya, sejak awal berdirinya dirancang sebagai satu-satunya  produsen komputer yang bisa menyediakan spesifikasi komputer apapun yang  “dirancang” pembelinya via online. Percakapan online sudah terjadi  sejak awal. Kemudian Dell menciptakan komunitas pengguna Dell, membangun  komunikasi horizontal antarpengguna melalui IdeaStorm, agar konsumen  bisa saling berbagi gagasan yang kemudian dieksekusi Dell. Itu terjadi  sebelum Facebook dan Twitter mewabah di mana-mana.  Kesuksesan Dell  inilah yang kemudian dicoba diimplementasikan oleh Starbucks melalui  Starbucks Ideas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua merek kondang itu sudah terbiasa bercakap-cakap dengan  konsumennya sebelum masuk ke social media! Maka begitu mereka masuk ke  social media, hasilnya luar biasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Permasalahannya, banyak brand di Indonesia yang tidak biasa atau  bahkan tidak pernah bercakap-cakap dengan konsumennya, tiba-tiba ingin  masuk ke social media dan berharap sukses.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berkaca dari pengalaman Starbucks dan Dell yang memang sudah biasa  bercakap dengan konsumennya SEBELUM  masuk ke social media, kita bisa  menduga bahwa peluang sukses brand yang tidak biasa berkomunikasi dengan  konsumennya sebelumnya akan sangat kecil. Untuk memperbesar peluangnya,  perlu usaha dan budget yang lebih besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu sebabnya, saya mengatakan, brand jangan “bermain-main” di social  media. Jika ingin ke social media, seriuslah. Siapkan manajemen dan  budget, serta analisa dengan baik bagaimana pola komunikasi dengan  konsumen selama ini sehingga mendapatkan strategi yang tepat ketika  masuk ke social media.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dikutip dari : http://virtual.co.id/blog/cyberpr/brand-jangan-bermain-main-di-social-media/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-79321946611481225?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/79321946611481225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/brand-jangan-bermain-main-di-social.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/79321946611481225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/79321946611481225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/brand-jangan-bermain-main-di-social.html' title='Brand Jangan Bermain-main di Social Media'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-3054262263366340437</id><published>2010-03-18T10:57:00.003+07:00</published><updated>2010-03-18T11:19:05.694+07:00</updated><title type='text'>Tentang Creativepreneurship</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/07/creativepreneurship1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 333px;" src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/07/creativepreneurship1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tulisan ini menyambung tulisan sebelumnya tentang Kopdar Pertama Belajar Kreatif. Saat itu yang rajin menulis blog ini ikut bercerita tentang pengalamannya mengembangkan perusahaan berbasis kreatif bernama Stratego dan lalu forum FreSh. Semuanya dijabarkan dalam beberapa poin, yang mudah-mudahan bisa menjadi tips bermanfaat bagi yang mendengarkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Poin-poin tersebut bisa disimak di salindia presentasi berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Idea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide adalah jelas modal utama bisnis berbasis kreatif. Nggak ada ide, ya nggak akan kreatif. Klien membayar kita untuk memberikan solusi. Makanya, kita yang harus memutar otak, mencari inspirasi, mencoret-coret, mencari data, yang bisa menjawab permintaan klien. Semua perusahaan kreatif mengandalkan ide sebgai basis utamanya. Tanpa ide nggak akan tergores tulisan di majalah. Tanpa ide nggak akan sebuah musik bisa tercipta. Tanpa ide nggak akan ada aplikasi web dan multimedia canggih. Ada banyak ide bermunculan datang dan pergi. Ide yang berhasil adalah yang bisa dipakai untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Saat kita berhasil memberikan solusi, saat itulah ide itu kita anggap berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Passion&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Pak Nukman cerita di tulisannya, dalam berbisnis atau bekerja atau belajar, kita harus punya passion. Passion tidak akan pernah redam sampai apa yang kita inginkan tercapai. Kalau tiba-tiba kita merasa jenuh, sebaiknya kita mempertanyakan pada diri kita sendiri, benarkah jalan ini yang ingin kita tempuh? Kalau memang kita benar-benar passion akan yang kita kerjakan, kita tak akan pernah jenuh. Bisa jadi kita kelelahan, tapi itu tetap tak akan mengendurkan semangat kita dalam berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partnership&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerjasamalah dengan seseorang yang kita benar-benar percaya. Berpartner akan meringankan beban pikiran, apalagi kalau yang dijadikan partner adalah orang yang benar-benar sudah klop dengan kita, yang bisa saling menutupi kekurangan lainnya. Selain itu, beraliansilah dengan rekan-rekan perusahaan lain. Tidak melulu semua kegiatan produksi kita kerjakan sendiri. Carilah rekanan yang punya prestasi bagus (atau setidaknya punya potensi untuk itu). Bangun kerja sama agar bisa saling menguntungkan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;State your goals&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan setiap tindakan harus punya tujuan, supaya kita bisa mengukur tingkat pencapaian kita sejauh apa. Kita bisa tentukan per bulan, per 6 bulan, atau per tahun. Tingkat pencapaian bisa berupa target pemasukan, target akuisisi klien, atau target jumlah pekerjaan yang berhasil diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be unique&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak perusahaan berbasis kreatif. Banyak di antaranya yang mirip. Kita harus menemukan keunikan kita sendiri. Keunikan yang membuat kita mudah diingat, dan bahkan menjadi keunggulan kita di antara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proactive in finding opportunity&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu diam saja tanpa bergerak tidak akan menghasilkan apa-apa, apalagi kalau kita baru memulai usaha. Bergeraklah! Buat materi presentasi yang menarik, kontak semua relasi, cari relasi baru di beragam acara, kalau perlu telpon-telpon calon prospek, dan ajukan presentasi langsung ke mereka. Bangun hubungan personal dengan teman-teman baru, agar nama kita semakin teringat di benak mereka. Siapa tahu nanti mereka yang memberikan peluang proyek kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rate yourself&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentukan harga dari jasa kita sendiri. Bedakan antara harga produksi dan harga kreatif. Bisa jadi harga produksi suatu harga yang tetap dan kurang lebih sama dengan para pesain kita. Harga kreatif bisa jadi berbeda, karena nilai ide itu bisa tidak ada batasnya. Tentunya pengalaman pun ikut menjadi penentu harga. Kalau misalnya, kita menghargai ide kita 15 juta rupiah karena pengalaman kita yang cukup tinggi, ya jangan menerima penawaran lebih rendah dari itu. Beranilah menolak klien saat kita ditawar lebih rendah daripada harga kita sepatutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diversify&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada istilah palugada (apa lu mau gua ada). Nggak salah juga, setidaknya saat-saat awal kita memulai usaha. Peluang nggak akan muncul dua kali. Kalau misalnya kita hanya terfokus pada 1-2 bisnis kreatif saja, saat ada yang menawarkan peluang proyek yang agak berbeda dari yang biasa kita lakukan, jangan takut untuk mengambilnya. Kita bisa mengerjakannya dengan beraliansi dengan rekanan lain. Karena, siapa tahu gara-gara kita mengambil peluang ini, kita malah bisa mengerjakan hal-hal lain dari klien sama di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be social&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaklah memberi setelah banyak menerima. Kalau kita sudah punya pengalaman, jangan ragu untuk membaginya ke orang lain. Bisa itu berupa tulisan di blog, berbicara jadi seminar, menulis buku, atau apapun. Saat kita membagi pengalaman, kita pun secara tidak langsung akan dilihat sebagai seorang yang kompeten, yang secara tidak langsung akan membuat nilai diri kita menjadi semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be a multitasker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat memulai bisnis, jangan merasa malu menjadi seorang yang harus serba bisa. Bisa mendesain, bisa mengonsep, bisa berjualan di telpon, bisa menjadi kurir, bisa menjadi tukang tagih, bisa menjadi office boy, bisa menjadi tukang jaga pameran, bisa menjadi tukang, dan bisa bisa lainnya. Seseorang yang memulai bisnis multimedia dan berlatar belakang desain, jangan ragu untuk mulai belajar pemrograman, demikian sebaliknya. Seseorang yang biasanya di balik layar karena mengurusi produksi, harus berani bertatap muka langsung dengan klien dan ikut presentasi dan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trusted troops&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pekerjaan multitasking sudah tak sanggup lagi dilakukan, percayakanlah sebagian beban ke orang-orang yang kita percayai. Biarkan mereka yang mengurusi, namun tentunya masih dalam pantauan kita. Kalau khawatir overhead bulanan membengkak, bentuklah pasukan tenaga freelance yang siap membantu kita lepasan hanya setiap ada proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-narcism&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang era social media. Kita tidak dianggap eksis kalau kita tidak punya blog atau profil Facebook. Manfaatkan blog untuk bercerita tentang pengalaman dan kompetensi yang kita punya. Manfaatkan Facebook dan LinkedIn untuk membangun jaringan bisnis. Manfaatkan YouTube dan DeviantArt untuk memamerkan karya-karya kita. Manfaatkan Twitter dan Plurk untuk menceritakan hal-hal yang fun dari pekerjaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sharing is good&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, berbagi pengetahuan dan pengalaman itu menguntungkan. Ilmu kita tidak akan hilang, justru kita akan dipaksa untuk belajar hal baru, agar kita bisa lebih unggul daripada yang lain. Namun, juga jangan kebablasan. Bila ada hal-hal yang saat ini masih menjadi keunggulan kita, ya jangan dibeberkan terlalu cepat. Saat kita sudah merasa cukup menuai hasilnya, bolehlah pengetahuan tentang hal itu kita bagi ke yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Never stops learning&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak boleh berhenti belajar, karena kita perlu membuat inovasi-inovasi baru. Sempatkan waktu untuk bereksperimen mencoba hal-hal baru. Siapa tahu di antara eksperimen kita itu malah membuahkan pemikiran baru yang menjadi keunggulan kreatif kita selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prepare for rejection&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pebisnis kreatif nggak selamanya enak. Harus sering pula merasakan kepedihan ditolak klien. Harus sering pula merasakan ikut tender atau pitch yang dibuat dengan melelahkan, lalu tidak menang. Jadi siap-siap saja menerima berbagai penolakan, baik yang disampaikan baik-baik atau yang paling tidak mengenakkan, tidak dikabari sama sekali. Sudah sering terjadi calon klien minta kita menyiapkan pitch, tapi tidak pernah memberi kabar apakah pitch kita diterima atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poorer than your friends?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, seperti para pebisnis lainnya, siap-siaplah jatuh miskin. Ini bagian yang suka dilewatkan. Katanya berbisnis itu menguntungkan? Memang benar, tapi tidak dalam waktu singkat. Sebelumnya harus melalui masa-masa penderitaan. Bisa jadi saat kita berkumpul dengan teman-teman alumni, kitalah yang saat itu paling miskin. Ada yang sudah menjabat sebagai manajer senior di perusahaan tertentu, sementara kita masih mengais-ngais mencari peluang bisnis. Namun, kalau dilakukan dengan serius dan benar, dalam 2-3 tahun, bisa jadi (penekanan pada bisa jadi loh) kita lebih makmur daripada mereka. Atau, bisa jadi pula kita semakin melarat dibandingkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boring administration&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang membuat malas adalah urusan administrasi. Karena kita terbiasa berpikir kreatif, memanfaatkan otak kanan kita untuk berkreasi, begitu kita berhadapan dengan hal-hal yang bersifat administratif, kita menjadi malas. Memang jujur saja, hal tersebut memang menjemukkan, namun mau tidak mau harus kita hadapi, seperti penyusunan proposal harga, penagihan, hingga mengurus pajak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time to start?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal pilih, mau mulai membangun bisnis kreatif sejak baru lulus, atau bekerja dulu pada perusahaan lain, baru keluar untuk membangun bisnis sendiri. Saat baru lulus, biasanya idealisme kita masih tinggi, dan keinginan untuk membuat sesuatu yang baru sangat besar. Bisa jadi kita punya keunggulan lebih dalam hal kompetensi, namun sayangnya jaringan bisnis kita belum luas, dan kita tak punya modal sama sekali. Kita butuh perjuangan ekstra untuk membentuk jaringan rekanan dan klien. Kalau kita terlebih dahulu bekerja dengan orang lain, setidaknya kita punya tabungan dan jaringan bisa kita mulai bangun dari tempat kita bekerja. Kelemahannya, bisa jadi kita menjadi terlalu nyaman berada di sana, sehingga semakin lama semakin sulit untuk keluar. Bisa jadi kebiasaan kita menerima gaji setiap bulan memberikan ketakutan tersendiri akan masa depan yang tak pasti, saat kita membangun usaha sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dikutip dari: http://media-ide.bajingloncat.com/2009/07/04/tentang-creativepreneurship/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-3054262263366340437?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/3054262263366340437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/tentang-creativepreneurship.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/3054262263366340437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/3054262263366340437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/tentang-creativepreneurship.html' title='Tentang Creativepreneurship'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-8676528458660558449</id><published>2010-03-12T12:01:00.004+07:00</published><updated>2010-05-25T19:50:08.629+07:00</updated><title type='text'>Saat Brand Berkampanye Melalui Channel Social Media</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/05/microblogbaikdanbenar-300x300.jpg"&gt;&lt;img src="http://media-ide.bajingloncat.com/wp-content/uploads/2009/05/microblogbaikdanbenar-300x300.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;i&gt;(Marketing)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;Sampai sekitar 3 tahun lalu, saat portal informasi masih menjadi tujuan utama pengguna internet Indonesia, pola berkampanye brand di ranah daring masih menggunakan pola sama. E-Advertising mereka lakukan dengan cara memasang iklan brand di spot-spot portal dan membayar sewa spot itu selama minimal sebulan. Tak beda dengan apa yang brand lakukan di media cetak dan televisi. Sekeren-kerennya desain brand, informasi yang disampaikan masih tetap satu arah, dari produsen ke konsumen.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan selanjutnya, desain brand semakin interaktif, dengan perkembangan rich media banner. Pengguna bisa berinteraksi, bermain game, mengirim data via form di dalam brand, dan mendapatkan pengalaman lebih dari sekedar menatap pasif iklan. Bahkan ada beberapa situs yang menawarkan untuk mengubah desain tampilan portal agar relevan dengan tema kampanye brand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan rich media banner, interaksi terasa lebih kaya, namun pesan yang diberikan masih dominan disampaikan oleh brand. Pengguna belum bisa merasakan pengalaman yang membuat iklan yang disampaikan itu menjadi terasa lebih personalized. Tidak ada yang membuatnya menjadi khas sesuai keinginan pengguna. Kalau diizinkan, E-Advertising era masa ini bolehlah disebut sebagai era E-Advertising 1.0. Komunikasi yang terjadi masih cenderung satu arah, bersifat top-down.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat blog tumbuh pesat dan gaungnya membesar sejak tahun 2007, brand secara perlahan-lahan mulai melirik ini sebagai salah satu channel potensial. Meski masih meraba-raba, beberapa brand ternama mulai mencoba meraih atensi para narablog (blogger). Sebutlah PT Toyota-Astra Motor, sebagai brand pertama yang menyelenggarakan gathering makan siang bersama para narablog. Karena ini merupakan hal baru, para narablog pun antusias menghadiri acara dan melakukan reportase tulisan di blognya. Ada pula yang mengadakan kompetisi blog, dengan harapan nama brand itu disebut di banyak blog. Secara tidak langsung para pembaca blog yang ikut dalam kompetisi itu pun aware akan kegiatan brand tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saat Facebook menjadi situs yang paling banyak dikunjungi pengguna internet Indonesia, pola kampanye brand pun semakin bergeser. Istilah social media marketing pun mulai dikenal. Kalau dahulu brand berkampanye dengan membuat situsnya sendiri, kini tak lengkap kalau kampanye itu tak terintegrasi dengan Facebook. Bahkan kini ada brand seperti BNI yang hanya berkampanye di dalam Facebook, tanpa membuat situs kampanye tersendiri. Kalau dulu pengunjung diminta untuk datang ke situs kampanye brand, kini eranya brand yang mendatangi dimana para pengguna internet biasa berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui blog, Facebook, lalu Twitter dan YouTube, setiap program kampanye dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi pengalaman unik setiap individu yang berpartisipasi. Dari sisi pengguna pun terasa lebih nyaman, karena mereka lalu tidak melihatnya seperti iklan. Mereka melihatnya sebagai salah satu fungsi yang umumnya mereka lihat saat sehari-harinya mereka beraktivitas di social media. Apalagi kalau program yang dilakukan brand menunjang E-Narcism mereka. Iklan terlihat lebih halus, dan lebih disukai para targetnya. Melalui kampanye seperti ini pun, brand bisa terlibat dalam percakapan dengan para penggunanya. Brand tentu harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, karena percakapan tak bisa dikendalikan sepenuhnya lagi oleh brand. Nah, kalau diizinkan lagi, E-Advertising era masa ini bolehlah disebut sebagai era E-Advertising 2.0. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;E-Advertising 1.0 bersifat satu arah, hanya dari brand menuju konsumen, sementara E-Advertising 2.0 bersifat dua arah. Konsumen yang terlibat dalam percakapan dengan brand menyebarkannya ke teman-temannya yang lalu ikut pula melibatkan diri dalam percakapan dengan brand.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Baca juga tulisan tentang E-Cosystem untuk mendapatkan gambaran skematik besarnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dikutip dari: http://media-ide.bajingloncat.com/2009/07/08/saat-brand-berkampanye-melalui-channel-social-media/&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-8676528458660558449?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/8676528458660558449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/saat-brand-berkampanye-melalui-channel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8676528458660558449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8676528458660558449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/03/saat-brand-berkampanye-melalui-channel.html' title='Saat Brand Berkampanye Melalui Channel Social Media'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-1424624110590855753</id><published>2010-02-25T11:41:00.010+07:00</published><updated>2010-05-25T19:48:02.425+07:00</updated><title type='text'>Gelombang Baru Digital Preneur Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.thegrio.com/assets_c/2009/09/AP090716020210Facebook-thumb-400xauto-3998.jpg"&gt;&lt;img src="http://www.thegrio.com/assets_c/2009/09/AP090716020210Facebook-thumb-400xauto-3998.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;oleh : A. Mohammad BS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(advertising)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Akses Internet yang makin murah, teknologi gadget yang makin fungsional, dan maraknya penggunaan media sosial rupanya berdampak signifikan terhadap bermunculannya para digitalpreneur generasi baru yang lebih kreatif dibandingkan sebelumnya. &lt;br /&gt;Setelah era dotcom bubble, tampaknya information and communication technology/ICT Indonesia sedang memasuki babak baru yang lebih pragmatis. Terutama, dalam melihat peluang bisnis di dunia maya. Era konvergensi dan Web 2.0 semakin membuka peluang bagi lahir dan berkembangnya para digitalpreneur yang lebih kreatif dan inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infrastruktur telekomunikasi yang kian memadai, serta semakin mudah dan murahnya akses Internet, turut memicu tumbuhnya wirausaha di bidang ICT. Bahkan, sukses situs pertemanan Facebook telah ikut mengilhami dan mendorong lahirnya generasi baru digitalpreneur. Maklum, seperti diketahui, pengguna Facebook di Indonesia sangat fenomenal. Saat ini, pengguna Facebook di negeri ini menempati urutan pertumbuhan tercepat kedua di dunia setelah Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan survei Inside Facebook yang dilakukan e-Marketer, jumlah pengguna Facebook di Indonesia naik sekitar 1.400.000 pengguna dalam sebulan terakhir. Pada 1 Desember 2009, e-Marketer mencatat Facebook memiliki 13.870.120 pengguna di Indonesia. Adapun pada 1 Januari 2010 sebesar 15.301.280 pengguna. Indonesia hanya satu peringkat di bawah AS yang mencatat kenaikan jumlah pengguna sebesar 4.576.220 pengguna dalam periode yang sama dari 98.105.020 menjadi 102.681.240 pengguna. Namun, persentase kenaikan jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai dua kali lipat AS. Indonesia naik 10%, sedangkan AS hanya 5%. Kenaikan 10% termasuk pertumbuhan tertinggi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Facebook tersebut melahirkan entrepreneur TI generasi baru seperti Fajar Persada. Ia membuat animasi flash game. Menurutnya, dalam satu hari ada sekitar 10 ribu pengguna Facebook yang memakai satu flash game. Di bawah bendera Abigdev, kini Fajar telah meluncurkan 8 jenis game yang berbau edukasi, seperti Nusachallenge dan Angklung Heroes Game. Dan masih banyak lagi yg terdapat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan makin murahnya layanan Internet, banyak pula entrepreneur yang fokus di dunia online dan Internet. Salah satunya, Brian Arfi, pendiri PernikMuslim.com dan PT DheZign Online Solution, perusahaan yang melayani jasa web development dan layanan online marketing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Facebook, ponsel cerdas BlackBerry juga mencatat prestasi pengguna yang fenomenal di Indonesia. Efek dominonya, bermunculan para pengembang aplikasi konten untuk BlackBerry. Sebut saja, Ronald Ishak yang mendirikan Domikado dan Kemal Arsjad yang mendirikan Better-B, sebagai perusahaan pengembang aplikasi dan konten untuk ponsel cerdas keluaran Research In Motion (RIM) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, kurang afdol berbicara tentang pengembang konten untuk ponsel cerdas tanpa menyebutkan nama Kendro Hendro. Boleh dibilang, sejauh ini Kendro merupakan salah satu entrepreneur yang cukup sukses menjadi pengembang aplikasi konten untuk vendor ponsel Nokia, lewat PT InTouch Innovative Indonesia. Salah satu produknya yang menonjol adalah fitur setting wizard yang dipakai di seluruh ponsel cerdas Nokia. Ia juga menggeluti bisnis mobile commerce lewat PT MORE Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digitalpreneur lain yang cukup bersinar di bisnis aplikasi mobile dan multimedia ini adalah Joseph Lumban Gaol. Melalui bendera bisnisnya PT Antar Mitra Prakarsa (m-STARS), kini Joseph memiliki beragam bisnis di bidang itu. Antara lain, mobile commerce (payment gateway) untuk 30 online merchant dan 2.000 agen pulsa online, mobile content untuk hampir seluruh operator telekomunikasi (kecuali Mobile-8), mobile advertising, portal musik (Popmaya.com), digital label (dr.m), dan 3D social media (LILO). Konon, hingga 2009 m-STARS mampu membukukan omset lebih dari Rp 20 miliar. “Kue bisnis di ICT besar sekali. Sedangkan kue yang kami makan masih sangat kecil,” ucap Joseph.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Joseph, entrepreneur lain yang membidangi teknologi mobile provider adalah Elwin Aldririanto yang mendirikan PT Mobee Indonesia. Lalu, ada Ari Sudrajat dkk. yang mendirikan perusahaan content provider BrainCode. Saat ini, BrainCode sudah bekerja sama dengan Telkomsel, Indosat, XL, TelkomFlexi, Esia, 3 dan Smart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kategori e-commerce, contoh entrepreneur yang cukup sukses adalah Heryanto Siatono, pemilik situs Bookjetty.com. Situs ini terhubung dengan toko buku Internet terbesar dunia Amazon.com, juga dengan 300 perpustakaan di 11 negara (antara lain, AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, Singapura, Hong Kong dan Taiwan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin mudah dan murahnya akses Internet juga mendorong bermunculannya digitalpreneur kreatif di bidang pengembangan aplikasi game. Di antaranya, Oka Suganda, yang melalui Sangkuriang Studio mengembangkan bisnis game Nusantara Online. Oka dan timnya membuat game itu berbasis pada mesin game ANGEL (Another Game Engine Library) dan merupakan massively multiplayer online role playing game (bisa dimainkan ribuan orang secara simultan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kalah kreatif dari Oka dkk. di Bandung, Abdullah Alkaff dan Suhadi Lili pun mengembangkan aplikasi game yang tak umum, lebih tepatnya aplikasi simulasi online. Melalui bendera PT Infoglobal Auto Optima (IAO) yang berbasis di Surabaya, pengajar dan mantan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu membuat aplikasi game untuk kepentingan militer dan pertahanan, pemetaan udara, maskapai penerbangan dan industri migas. Saat ini, seperti dikemukakan Khoirul Huda, Koordinator Board of Directors Infoglobal Group, beberapa perusahaan dan lembaga telah menggunakan aplikasi buatan IAO. Antara lain, PLN, Garuda Indonesia, Vico Indonesia, Total Finaelf (Kalimantan Timur), Exxon Mobil, Medco, BP Migas, Kangean Energy Indonesia, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, TNI AL, Sesko AU, Kohanudnas, Departemen Pertahanan dan Bank Islam Brunei Darussalam. Awalnya, omset yang dibukukan IAO hanya Rp 10-20 juta, dan pada 2009 omsetnya sudah Rp 25 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kategori business software, fenomena kemunculan para entrepreneur TI tak kalah serunya. Di sini terdapat ratusan pengembang aplikasi. Menurut data Independent Software Vendor (ISV) binaan Microsoft, diperkirakan ada 500-an ISV lokal di Indonesia — 251 di antaranya bercokol di Jakarta. Hal yang sama dikemukakan lembaga riset internasional IDC: jumlah software house di Indonesia naik menjadi 500 unit tahun 2008, dengan jumlah pengembang profesional 71.600 orang. Jika dilihat dari jumlah total pengembang profesional di dunia yang sebesar 13,5 juta, Indonesia baru menyumbang 0,5%. Sumbangan terbesar dari India (10,5%), disusul AS (8,9%). Secara regional, wilayah Asia Pasifik penyumbang developer terbesar di dunia (29,2%), disusul kawasan Amerika Utara (21,7%).&lt;br /&gt;Wirausaha yang sukses di bidang aplikasi bisnis ini antara lain G. Hidayat Tjokrodjojo dan Ryadi Darmazi, pendiri PT Realta Chakradarma. Salah satu produk software yang mereka kembangkan dan menjadi produk unggulan mereka adalah solusi R-hotel-S untuk dunia perhotelan. Software ini digunakan sedikitnya di 40 hotel. Nama lainnya adalah Indra Sosrojoyo, pendiri PT Andal Software yang membuat software akuntansi dan perpajakan dengan merek andalan Andal Kharisma. Lalu, ada Fadil Basymeleh, yang melalui PT Zahir Internasional menciptakan peranti lunak akuntansi dengan merek Zahir Accounting. Juga, Wiwie Haris, pendiri software house PT Mitrais di Bali. Aplikasi buatan Mitrais ini sudah dipasarkan di Malaysia, Australia dan negara-negara Afrika. Ada pula Happy Chandraleka dan Taufan Chandra Kusuma, yang mendirikan Digital Works. Aplikasi yang pernah dibuat Digital Works antara lain WinShalat, BuDarti (digital dictionary), Mata-mata (keylogger), Shandiyudha, Gamelan dan Layar Tancep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lulusan” ISV binaan Microsoft yang cukup sukses mengembangkan kreasi sendiri adalah Andri Yadi. Melalui PT DyCode Cominfotech Development, Andri telah mengembangkan beberapa peranti lunak. Salah satunya, PortMan (Port Management System), yang telah digunakan beberapa pelabuhan swasta besar di Indonesia. Juga, Tonny Loekito dengan bendera bisnisnya PT Rent@soft, yang fokus di pengembangan peranti lunak untuk rumah sakit dan bank. Salah satu aplikasi andalannya adalah Rhinotones, sistem informasi berbasis web yang terintegrasi untuk rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang fokus di bisnis pengembangan aplikasi pendidikan. Salah satu contoh suksesnya adalah Hary Sudiyono Chandra melalui PT Pesona Edukasi. Aplikasi Pesona Edukasi ini telah dipasarkan ke 23 negara. Selain Hary, nama lainnya di bidang software pendidikan adalah Putu Sudiarta, pendiri PT Bamboomedia Cipta Persada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sejalan dengan tumbuhnya semangat penerapan tata kelola pemerintahan yang baik (good corporate governance), peluang bagi pengembangan aplikasi e-Goverment (e-Gov) pun terbuka lebar. Salah satu wirausaha yang cermat menangkap peluang tersebut adalah Virgo Lazarus Pehulisa. Melalui PT Balerang Konsultindo Mandiri (BKM), Virgo mengembangkan berbagai aplikasi untuk kebutuhan e-Gov. “Saat ini, klien BKM mencakup sejumlah pemda, mulai dari Sumatera Utara hingga Papua,” kata Virgo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, seiring dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada, semangat kewirausahaan di bidang ICT di Indonesia tumbuh cukup subur. Bahkan, kini hampir semua lini di industri ICT telah digeluti. Tumbuhnya para digitalpreneur ini tentunya diharapkan bisa berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Badan Telekomunikasi Dunia (ITU) menyebutkan, setiap 1% pertumbuhan dalam hal penetrasi ICT akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara sebesar 3%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun pihak perusahaan (vendor atau korporasi), sangat diharapkan bagi pertumbuhan bisnis para digitalpreneur tersebut. Salah satu vendor yang cukup punya perhatian terhadap pengembangan entrepreneurship adalah Microsoft. Menurut Irving Hutagalung, ISV Lead Developer and Platform Group Microsoft Indonesia, saat ini Microsoft punya dua program pengembangan entrepreneur TI, yakni BizSpark dan WebsiteSpark. BizSpark adalah program yang ditujukan bagi perusahaan pembuat software yang umur usahanya di bawah tiga tahun atau disebut start-up. Adapun WebsiteSpark merupakan program yang ditujukan untuk perusahaan pembuat website atau yang fokus pada bisnis pengembangan dan perancangan web yang jumlah karyawannya di bawah 10 orang. Selain syarat di atas, pendapatan tahunan calon peserta harus kurang dari US$ 500.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan yang diberikan Microsoft pada peserta program BizSpark dan WebsiteSpark berupa software, visibility dan pelatihan. Visibility di sini agar peserta program bisa terlihat oleh para pelanggan Microsoft. Misalnya, ketika Microsoft mengadakan pameran, akan disediakan booth bagi peserta program secara gratis dan mereka bisa ikut pameran, sehingga mereka bisa berkenalan dengan mitra jejaring Microsoft. Peserta program BizSpark dan WebsiteSpark akan dibina dan diberi bantuan selama tiga tahun. Sejauh ini sudah lebih dari 200 entrepreneur bergabung di kedua program itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Microsoft juga memiliki program BinaISV, yang ditujukan untuk mengembangkan ISV lokal di Indonesia. Dalam program yang berjalan sejak 2003 ini Microsoft akan memberikan visibility, pelatihan dan support, serta technology update. Sudah ada 210 peserta yang bergabung dalam program Bina ISV. Menurut Irving, sebagai perusahaan, Microsoft datang dengan dua misi: memperkenalkan teknologi dan menjual software. “Agar dua hal ini bisa berjalan berbarengan, kami perlu satu local software economy yang tinggi pertumbuhannya. Makin tingginya pertumbuhan di local software economy ini secara tidak langsung ada impact-nya ke Microsoft.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Microsoft, korporasi lokal yang mulai serius memberi perhatian dan dukungan terhadap perkembangan para digitalpreneur ini adalah PT Telkom. Seperti dikemukakan Widi Nugroho, Head of Digital Business PT Telkom, guna mendukung orang bisa berkarya terutama di bidang teknologi digital, Telkom membuat Indonesia Digital Community (Indigo). Tujuannya, untuk memfasilitasi dan mewadahi insan kreatif Indonesia dalam berkarya. Indigo punya banyak program, salah satunya Indigo Fellowship. “Indigo Fellowship menjaring ide-ide atau karya kreatif yang ada di masyarakat. Kami seleksi, kemudian akan difasilitasi dan dibina agar bisa sukses,” papar Widi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program ini baru mulai setahun lalu, dan berhasil menjaring 11 orang dari sekitar 400 peminat yang mendaftar. Mereka diberi fasilitas modal usaha sekitar Rp 50 juta. Selain itu, mereka juga diberi pembinaan seperti membuat business plan, cara memasarkan produk, serta diikutkan dalam seminar, pameran, dan kegiatan lain yang dapat mengembangkan bisnis mereka. “Harapannya, mereka bisa menjadi digitalpreneur sukses dan menjadi partner bisnis Telkom. Mereka punya kesempatan untuk bisa makin sukses,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta yang sedang digodok dalam program ini di antaranya pemilik suararadio.com, yaitu pengembang aplikasi e-broadcast untuk pengelola radio swasta. Ada juga ayofoto.com, komunitas online di bidang fotografi di mana orang bisa mem-posting foto di situ. Web ini bisa menjadi photo stock premium sehingga orang bisa beli foto lewat web ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain infrastruktur telekomunikasi yang memadai dan akses Internet yang semakin mudah,  tumbuhnya para digitalpreneur itu, menurut pengamat dan praktisi TI Richard Kartawijaya, disebabkan beberapa faktor. Pertama, pasar yang tumbuh sangat pesat, baik lokal maupun luar negeri. Kedua, teknologi ICT berkembang pesat dan semakin kelihatan kegunaannya di berbagai bidang, bahkan masuk dalam bidang entertainment dan usaha. Ketiga, jumlah masyarakat yang mempunyai kemampuan menggunakan ICT semakin banyak. “Saat ini, ICT bukan lagi sekadar alat, tetapi menjadi enabler di semua bidang,” ucap Direktur Utama PT Informatika Solusi Bisnis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Richardus Eko Indrajit menilai bermunculannya ICT-preneur ini lantaran umumnya hanya membutuhkan modal relatif kecil. Selain itu, risikonya relatif kecil. Terlebih lagi, bisnis ini bisa selaras dengan hobi pribadi atau sekelompok orang. “It’s a nothing to lose business untuk mereka yang punya hobi dan passion di suatu bidang,” ujar pakar TI dari Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Richard maupun Eko sepakat bahwa ke depan masih terbuka sejumlah peluang yang bisa digarap di bisnis ICT ini. Antara lain, pemakaian multimedia di banyak bidang, terutama di bidang entertainment dan usaha. Misalnya, dalam wujud animasi, film (movie), desain grafis, iklan, musik dan konten entertainment. Juga, yang cukup potensial berkaitan dengan jasa ritel, seperti ticketing system, e-banking dan electronic payment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor Pendukung Perkembangan Digitalpreneur di Indonesia&lt;br /&gt;• Berkembang pesatnya penggunaan ponsel.&lt;br /&gt;• Berkembangnya situs Internet yang memberikan kemudahan bagi   &lt;br /&gt;para pengembang untuk menjual aplikasinya (applet) ke konsumen&lt;br /&gt;di seluruh dunia. Contohnya, Apple Store dan BlackBerry Apps World.&lt;br /&gt;• Ketersediaan teknologi dan alat pembuatan peranti lunak sistem informasi.&lt;br /&gt;• Biaya pemanfaatan ICT yang makin terjangkau,&lt;br /&gt;termasuk biaya akses dari infrastruktur ICT dan biaya peranti keras/lunak.&lt;br /&gt;• Ketersediaan tenaga pengembang lokal yang mumpuni.&lt;br /&gt;• Struktur bisnis lokal yang mendukung pemakaian ICT secara intensif,&lt;br /&gt;misalnya industri perbankan dan telekomunikasi.&lt;br /&gt;• Dukungan pemerintah terhadap ICT.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari.: http://swa.co.id/2010/02/gelombang-baru-digitalpreneur-indonesia/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-1424624110590855753?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/1424624110590855753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/02/gelombang-baru-digitalpreneur-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1424624110590855753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/1424624110590855753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/02/gelombang-baru-digitalpreneur-indonesia.html' title='Gelombang Baru Digital Preneur Indonesia'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7665885735153218335.post-8823498236387269713</id><published>2010-02-23T12:52:00.002+07:00</published><updated>2010-05-25T19:48:37.982+07:00</updated><title type='text'>Cara Enzim Merebut Pasar</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;oleh : Taufik Hidayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Marketing)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Walau tergolong cukup nekat, Enzim berhasil merebut sebagian pasar pasta gigi. Kuncinya: diferensiasi produk yang sangat jelas dan edukasi tiada henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita tidak pernah memperhatikan, dari sekian banyak fosil manusia purba yang ditemukan, tak satu pun yang mengalami kerusakan gigi. Padahal, manusia purba belum memiliki kebiasaan menyikat gigi. Bandingkan dengan manusia modern yang rajin menyikat gigi, tetapi sudah mengalami kerusakan gigi. Hal itulah yang mengundang rasa penasaran L. Alexander Agung dan mendorongnya untuk meneliti hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibantu pakar dari beberapa universitas ternama di Tanah Air, Alex serius melakukan penelitian. “Ternyata manusia sudah memiliki pelindung alami, yaitu air liur,” kata Alex. Dia menjelaskan, manusia purba selalu memakan makanan yang alami, sehingga air liur dapat bekerja secara maksimal dalam melindungi gigi. Hal ini berbeda dari manusia modern yang banyak mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia seperti pewarna, pengawet dan pestisida yang merusak kualitas air liur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengejutkan lagi, berdasarkan penelitiannya, ternyata detergen yang banyak digunakan pada pasta gigi termasuk salah satu zat yang merusak sistem pertahanan alami dalam mulut yang disebut Laktoperoksidase (LP-sistem). LP-sistem merupakan sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme yang secara alami terdapat dalam rongga mulut. Di dalam rongga mulut terdapat 40-50 protein yang bisa membantu mencegah berkembangnya kuman-kuman penyakit di dalam rongga mulut. “Jika sistem pertahanan dalam rongga mulut ini dirusak oleh hal-hal tadi, boleh jadi orang akan terkena radang gusi, sariawan dan bau mulut,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar pada temuan tersebut, Alex memberanikan diri meluncurkan produk pasta gigi dengan diferensiasi utama tanpa detergen. Alex mengatakan, langkahnya tergolong sangat nekat. Pasalnya, pasar pasta gigi tergolong sudah sangat mature. “Penetrasinya hampir 100%,” ungkapnya. Tambah lagi di kategori produk ini ada raksasa yang sudah sangat kuat mencengkeram pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex pun menyadari sebelumnya hampir tidak ada pemain yang berhasil menggoyang dominasi sang raja. Bahkan, perusahaan yang skalanya jauh lebih besar dari perusahaannya saja tidak mampu berbuat banyak kala menggarap kategori ini. “Saya sadar, peluang keberhasilan saya hanya 0,1%. 99,9% bakal gagal,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Alex tetap bergeming. Tahun 1991, di bawah bendera PT Enzym Bioteknologi Internusa (EBI), ia nekat meluncurkan pasta gigi yang diberi merek Enzim tersebut. “Kami sangat percaya akan kekuatan produk ini,” katanya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak mengandung detergen, menurutnya, Enzim dapat berfungsi sebagai salah satu solusi untuk merehabilitasi sel-sel air liur yang telah dirusak oleh bahan-bahan kimia. Pasta gigi Enzim dibuat tidak hanya untuk membersihkan gigi, tetapi juga untuk membersihkan rongga mulut dan mengembalikan fungsi air liur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, belum apa-apa, EBI sudah mendapat kendala. “Awalnya, tidak ada distributor yang mau mendistribusikan produk ini,” ujar Alex mengenang. Menurutnya, hal itu tergolong sangat wajar. Pasalnya, Enzim mengusung strategi yang tergolong antitesis. Pertama, diferensiasi Enzim (tanpa detergen) membuat produk ini menjadi terasing. Pasalnya, semua produk pasta gigi lainnya menggunakan detergen dan konsumen pun sangat terbiasa dengan produk tersebut. “Mitos yang berkembang adalah, kalau gosok gigi tidak ada busanya, berarti tidak bersih,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, harga yang dipatok Enzim di atas pemain-pemain lain. Perbedaannya pun sangat signifikan, mencapai 3-4 kali lipat. “Orang bilang kami gila, pemain baru dan merek lokal, tapi harganya mahal,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi harga tersebut memang sengaja ditempuh EBI. Pasalnya, ongkos produksi dan bahan bakunya memang lebih mahal dibanding pasta gigi lain. “Tidak selamanya produk lokal harus lebih murah dari produk internasional. Kalau mutunya jauh lebih bagus, apakah juga harus dijual lebih murah?” kata Alex seraya menyebutkan, saat ini harga produknya Rp 23.000-88.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena harganya lebih mahal, EBI pun membidik target pasar yang lebih spesifik. “Kami tidak menyasar semua segmen. Kami fokus di segmen menengah-atas,” ujarnya. Karena itu, pada tahap awal EBI pun mendistribusikan produknya di kawasan yang banyak dihuni kalangan menengah-atas. “Daerah pertama yang kami jajaki adalah wilayah Jakarta Selatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pengalaman distribusi yang memadai, strategi tersebut tidak berjalan mulus. EBI pun mempersempit fokus wilayah garapannya. “Kami menggarap per kelurahan. Kalau sudah cukup baik di satu kelurahan, baru pindah ke kelurahan lainnya,” ungkapnya. Dan di setiap gerai yang menjual Enzim, EBI acap kali menggelar event untuk mengedukasi konsumen secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau fokus wilayah garapannya sudah dipersempit, penjualan Enzim masih belum juga terdongkrak. Beberapa gerai bahkan sudah enggan menjual produk ini. Maka, EBI melakukan langkah yang sedikit “licik”. “Kami melakukan buy back. Tujuannya, agar toko merasa bahwa produk itu ‘berputar’ dan mereka tetap mau menjualnya,” ungkap Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakuinya, strategi buy back tersebut memang membuat perusahaannya semakin berdarah-darah. Namun, Alex tetap bertahan. “Produk seperti ini memang harus rugi dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya edukasi terus dilakukan. Tidak hanya konsumen akhir, tetapi para dokter gigi dan kalangan akademisi pun tak luput dari incaran EBI. Alex sendiri acap kali menjadi dosen tamu di fakultas kedokteran gigi di berbagai universitas di Indonesia. Tujuannya, tak lain, untuk menyosialisasi hasil penelitiannya sekaligus memperkenalkan produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan tetapi pasti, penjualan Enzim mulai menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Upaya edukasi pun semakin digenjot. “Event yang kami lakukan di outlet terus ditambah frekuensinya,” ungkap Alex yang juga menerbitkan Enzim untuk anak-anak. Enzim anak-anak, dikatakannya, sekaligus sebagai upaya edukasi sedari dini. Ini juga terkait dengan strategi EBI yang hampir 100% mengandalkan aktivitas below the line. Maklum, keterbatasan anggaran membuat perusahaan ini seperti alergi dengan komunikasi above the line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyak menggelar kegiatan BTL, Alex berharap tidak hanya membuat konsumen teredukasi, tetapi juga menciptakan word of mouth. “Ternyata, cukup berhasil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alex, memasuki milenium baru (tahun 2000-an), penjualan Enzim semakin membaik. “Sejak awal, setiap tahun penjualan kami memang selalu tumbuh. Tapi sejak tahun 2000 pertumbuhannya mulai signifikan,” ungkapnya. Distribusi Enzim pun semakin meluas ke hampir seluruh wilayah Indonesia, khususnya di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EBI juga tak lagi mendistribusikan sendiri produknya. “Distributor mulai bersedia mendistribusikan produk kami,” ujar Alex tanpa bersedia menyebut nama perusahaan distribusinya. Saat ini ada dua perusahaan distribusi yang menyalurkan produk Enzim. Namun, kedua distributor tersebut menyasar pasar yang berbeda, yaitu pasar produk konsumer dan pasar medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin meluasnya distribusi produk membuat EBI mulai merasa perlu melakukan komunikasi above the line, khususnya iklan di televisi. Namun, sekali lagi, karena bujet yang terbatas, komunikasi ATL Enzim amat terbatas. “Kami hanya tampil di Metro TV dan TV One,” kata Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berhenti sampai di situ, sejak 2007 EBI pun menempun strategi baru dalam upaya mengedukasi konsumen, yaitu dengan menggelar kegiatan factory visit. Setiap hari, mereka mendatangkan rombongan dari berbagai wilayah di sekitar Jakarta dan Jawa Barat (bahkan sampai Lampung) untuk mengunjungi pabriknya yang berlokasi di Cimanggis. “Kami menyediakan bus dan makan siang,” kata Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pabrik, para peserta factory visit akan mendapat berbagai pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut. “Setiap hari, dari Senin sampai Jumat selalu ada rombongan yang datang,” ujarnya seraya menambahkan, setiap rombongan harus berjumlah minimal 50 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pakar pemasaran dari Direction Consulting, Jahja B. Soenarjo, strategi factory visit yang digelar EBI kurang tepat. “Enzim itu bukan produk makanan. Kalau produk makanan, memang perlu, untuk menunjukkan bahwa pembuatan produknya higienis,” ujarnya. Jahja berpendapat, akan lebih efektif jika EBI memberikan sampel dan menggunakan testimoni para pakar di bidang kesehatan gigi untuk meyakinkan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meraih pasar, tambah Jahja, memang tak ada cara lain bagi EBI selain mengedukasi pasar. Dan, upaya edukasi itu menurutnya harus terus dilakukan. “Butuh napas panjang memang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Jahja juga menyebut bahwa faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah pemilihan channel. Karena harga yang dipatok Enzim tergolong cukup tinggi, gerai yang memasarkannya pun harus dipilih dengan benar. EBI, menurutnya, tidak harus membidik semua jenis gerai untuk memasarkan produk ini. “Pasar yang mereka bidik tidak besar, jadi outlet-nya pun harus dipilih dengan benar. EBI harus tahu habit belanja target pasarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex sependapat dengan Jahja. Walau saat ini distribusi produknya sudah mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia, jumlah gerai yang memasarkan produk ini tidaklah terlalu banyak. “Kami lebih banyak masuk ke modern market.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya pasar juga diantisipasi EBI dengan terus berinovasi. Awalnya mereka hanya mengandalkan dua varian produk, sedangkan kini mereka sudah memiliki lima varian, termasuk orthodontic untuk orang yang menggunakan kawat orthodontic dan pasta gigi untuk anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alex, yang pernah menjadi produser film pada 1970-an, pasta gigi Enzim kini sudah diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Terbukti, dalam beberapa tahun terakhir rata-rata Enzim berhasil meraih pertumbuhan penjualan hingga 30%. Bahkan, produk ini mulai merambah pasar luar negeri, walau baru di Taiwan saja. “Harga di Taiwan lebih tinggi lagi dan tercatat sebagai pasta gigi termahal di dunia,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, Enzim akan tetap fokus dalam menggarap segmen pasar yang digelutinya saat ini. “Saya memang bercita-cita membuat gigi semua orang Indonesia sehat, ” ujarnya, “Tapi, dengan harga yang seperti ini, rasanya masih sulit membidik pasar yang lebih luas.” ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari:  http://swa.co.id/2009/12/cara-enzim-merebut-pasar/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7665885735153218335-8823498236387269713?l=oretindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://oretindonesia.blogspot.com/feeds/8823498236387269713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/02/cara-enzim-merebut-pasar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8823498236387269713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7665885735153218335/posts/default/8823498236387269713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://oretindonesia.blogspot.com/2010/02/cara-enzim-merebut-pasar.html' title='Cara Enzim Merebut Pasar'/><author><name>ORET</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08409706332281431063</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='30' src='http://2.bp.blogspot.com/_fHLEVwB40sc/S4NUFToPdFI/AAAAAAAAACk/dEmmOEQwaW0/S220/negativ+logo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
